Persiapkan Gelombang Pembukaan Wisata, Produsen Carica Genjot Produksi

PROSES. Carica ideal untuk diproses menjadi manisan siap saji tidak bisa terlalu matang hingga kuning sempurna.

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Para produsen manisan carica atasu carica in syrup terpantau mulai memulihkan kapasitas produksi menuju lebih dari 70 persen dibanding sebelum pandemi covid-19. Hal itu dilakukan mengingat sejak bulan April lalu, para produsen sudah memangkas produksi hingga 25 persen bahkan ada yang menyetop produksi secara total.

Mengingat selama hampir empat bulan, sektor pariwisata masih mandek tanpa aktifitas. Diungkapkan seorang pengelola produksi Carica di kawasan Mojotengah, Afiudin penjualan untuk harian memang turun drastis sejak April lalu, namun mulai ada permintaan sejak akhir Juli lalu.

“Harapan kami, dengan mulai dibukanya pendakian, jalur-jalur transportasi, hingga nanti mungkin obyek wisata bisa mengembalikan apa yang kemarin hilang. Terus terang selama dua bulan, kami tidak ada pemasukan berarti dari penjualan. Kami juga belum berani produksi karena jangka waktu carica untuk kemasan cup plastik idealnya di tiga hingga empat bulan,” katanya kemarin (14/8).

Baca juga
Nakes Positif Corona, Tiga Puskesmas di Wonosobo Ditutup

Selain masalah ongkos produksi hingga penjualan, salah satu masalah utama ketika produsen mulai produksi serentak ialah kelangkaan pasokan buah carica sebagai bahan baku. Padahal selama dua bulan lebih, harga carica siap olah turun hingga Rp2.000 yang sebelumnya ada di angka aman Rp6.000 per kilogram. Menurut salah satu pengusaha carica di Kertek, Alif, kondisi itu kemungkinan besar disebabkan karena di kawasan Kejajar memang minim pasokan atau panenan. Meskipun begitu, para petani juga dihadapkan pada peremajaan pohon yang jarang dilakukan.

“Bagi produsen, kalau dapat harga di Rp7.000 masih kemahalan, idelanya di Rp5.000 dan kondisinya pun tidak bisa terlalu matang. Sekarang memang harga belum setinggi tahun lalu saat buah matang langka, tapi ketersediaannya mulai surut sebulan lalu. Apalagi jumlah pengusaha banyak sekali, terutama yang tingkatnya industri rumahan,” ungkapnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Tujuh Desa di Wonosobo Bakal Gelar PAW Kades

Meski tidak ada rencana kenaikan harga produk, diungkapkan Alif, para produsen kini lebih memilih penjualan secara online atau sistem agen. Hal itu bisa memangkas operasional untuk penjualan dan tenaga sehari-hari. (win)