Permintaan Tembakau Garangan di Wonosobo Cukup Tinggi

KERINGKAN. Beberapa petani masih mengeringkan tembakau dengan jemur daun utuh atau sistem dendeng di kawasan desa Maron Kecamatan Garung.
KERINGKAN. Beberapa petani masih mengeringkan tembakau dengan jemur daun utuh atau sistem dendeng di kawasan desa Maron Kecamatan Garung.

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Di musim panen tembakau tahun ini masih banyak petani yang optimis dengan olahan tradisional. Beberapa di antaranya para petani di kawasan Kecamatan Garung yang masih bertahan untuk mengolah dan menyimpan tembakau dengan sistem tradisional atau kuno.

Petani setempat, Somaeri menyebut, peminat tembakau garangan masih cukup tinggi. Bahkan ada tren kenaikan sejak dua tahun terakhir.

“Para petani di sini masih banyak yang memroses tembakau yang baru saja dipanen dengan cara lama yang mungkin sudah dilakukan sebelum tahun 1900-an atau masa kolonial belanda. Di antaranya ada yang disimpan kering, dengan dijemur daun hijau atau dendeng dan ada juga yang diproses bakar atau istilahnya tembakau garangan,” ungkapnya kemarin (23/8).

Diungkapkan Somaeri, para petani di kawasan Garung hingga Kejajar memang masih banyak menanam tembakau dari jenis yang sudah dikembangkan secara lokal. Bahkan pada era 1980 hingga 1990-an, banyak pencari bibit tembakau yang mengambil dari kawasan Garung. Kini, para petani sudah mulai beralih dari tanaman tembakau ke sayur seperti labu siam atau jipang. Sedangkan untuk tembakau, biasanya diambil para pengepul dari beberapa wilayah seperti Temanggung.

“Kalau yang lokalan saja ada yang diproses di sini, ada juga yang disimpan saja. Seperti dendeng itu yang biasanya dijemur langsung, biasanya masih ada pengepulnya dan yang paling banyak dari daerah Kebumen yang ambil tapi ada juga yang diolah sendiri,” katanya.

Baca juga
Diizinkan Bupati, Pasar Tradisi Lembah Merapi Kembali Dibuka

Kini harga jual tembakau proses garangan atau bakar semakin membaik, bahkan untuk kualitas standar yang tadinya di harga Rp15 juta per rigen mengalami kenaikan hingga Rp2,5 juta. Hal itu menjadi peluang bagi para petani yang awalnya sangat mengandalkan pabrik untuk membeli maupun para tengkulak.

Artikel Menarik Lainnya :  Pemkab Wonosobo Optimis Herd Immunity Bisa Terbentuk di Bulan Depan

Dengan semakin tingginya permintaan, para pemroses juga memberikan berbagai pilihan harga yang kini banyak menyasar generasi muda usia 20-an. Hal itu diungkapkan salah satu pedagang tembakau garangan anline, Andi yang masih terus kekurangan pasokan.

“Tiap kami belanja satu rigen, biasanya tidak sampai seminggu habis. Kami juga biasanya menyediakan kemenyan hingga kelengkapan lainnya, pembelinya bahkan mayoritas pemuda,” katanya.  (win)