Permentan ini Penyebab Harga Bawang Putih Anjlok

KONTROL. Kuwato salah satu PPL di Kecamatan Kledung mengontrol tanaman bawang putih menjelang panen raya awal bulan lalu. 
KONTROL. Kuwato salah satu PPL di Kecamatan Kledung mengontrol tanaman bawang putih menjelang panen raya awal bulan lalu. 

MAGELANGEKSPRES.COM,TEMANGGUNG – Anjloknya harga bawang putih produksi petani di lereng Gunung Sindoro, Sumbing dan Prahu, salah satu penyebabnya adalah perubahan Permentan tentang rekomendasi impor produk hortikultura. Importir tidak wajib tanam untuk mendapatkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) tetapi mempunyai utang tanam setelah mendapatkan RIPH.

“Dengan adanya perubahan Permentan ini maka importir tidak diwajibkan membeli bawang putih dari petani, oleh karena itu serapan bawang putih khusunya untuk benih menjadi sangat berkurang,” kata Bupati Temanggung H M Al Khadziq, Jumat (24/4).

Selain itu Bupati mensinyalir, turunnya harga bawang putih disaat petani sedang memulai panen raya ini karena, pemerintah membuka impor bawang putih. Sehingga pasokan bawang putih sangat melimpah dengan demikian harga bawang putih turun drastis.

Kondisi ini kata Bupati, membuat petani terancam mengalami kerugian yang cukup besar, mengingat harga bawang putih saat ini jatuh, yang semula harga bawang basah Rp10.000-Rp12.000 per kilogram menjadi Rp6.000-Rp8.000 per kilogram.

“Harga bawang putih justru terus mengalami penurunan, ini sangat merugikan bagi petani. Disisi lain diawal tanam petani diminta untuk membudidayakan bawang guna mencapai swasembada benih bawang putih, namun saat panen raya tiba harganya jatuh,” katanya.

Baca Juga
Perjalanan 91 KA di Daop 5 Dibatalkan, KA Barang Tetap Jalan

Oleh karena itu Bupati meminta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menghentikan bawang putih impor masuk ke Jawa Tengah, karena saat ini petani bawang putih di Temanggung dan beberapa daerah lainnya sedang panen raya.

“Kami minta bawang putih impor tidak masuk Jateng agar bawang putih lokal terserap oleh pasar, di mana Kabupaten Temanggung siap memenuhi kebutuhan konsumsi bawang putih se Jawa Tengah,” pinta Bupati

Tidak hanya itu, pihaknya juga berkirim surat kepada Menko Perekonomian, juga kepada Menteri Pertanian dan Gubernur Jateng, dalam surat tersebut disampaikan kondisi riil petani bawang putih di Kabupaten Temanggung.

“Kita juga memohon beberapa rekomendasi kepada para menteri dan gubernur tersebut, harapan kami surat segera direspon agar petani tidak semakin merugi,” katanya.

Pada masa panen raya tahun ini di Temanggung ada sekitar 2.800 hektar lahan bawang putih yang sedang dipanen. Lahan bawang putih ini tersebar di lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan lereng Gunung Prahu dengan elevasi ketinggian 700-1.300 meter di atas permukaan laut.

Menurut dia dari 2.800 hektar lahan tersebut bisa menghasilkan sekitar 24.000 ton bawang putih basah atau setara 12.000 ton bawang putih kering.

Produksi bawang putih di Temanggung dikelompokkan dalam 3 kategori, pertama penanaman bawang putih yang merupakan program APBN Kementerian Pertanian, kemudian penanaman bawang putih kerja sama antara gapoktan atau kelompok tani dengan importir bawang putih, dan ketiga penanaman bawang putih mandiri oleh petani.

Menurut Bupati, semula produksi bawang putih di Kabupaten Temanggung 60-70 persen untuk melayani benih di seluruh Indonesia.

Kemudian program APBN tahun 2020 karena ada pendemi COVID-19 menyebabkan seluruh anggaran APBN dilakukan refocusing sehingga lahan pengembangan bawang putih awalnya 4.050 hektar menjadi 2.000 hektar.

“Saat ini memang sedang fokus menangani covid-19, kedepan petani Temanggung tetap bisa membudidayakan tanaman bawang putih,” harapnya. (set)