Penyumbang APBN Terbesar, Petani Tembakau Masih Terpuruk. Ini Sebabnya

Salah seorang petani asal Kabupaten Temanggung tengah merajang daun-daun tembakau sebelum masuk dalam proses penjemuran. (Foto: rizal ifan chanaris.)
Salah seorang petani asal Kabupaten Temanggung tengah merajang daun-daun tembakau sebelum masuk dalam proses penjemuran. (Foto: rizal ifan chanaris.)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKPRES. COM – Meski berdasarkan data dan fakta yang ada sektor pertembakauan mampu menjadi salah satu sektor penyumbang APBN terbesar di Republik Indonesia, namun ternyata masih banyak keluhan dari kalangan petani yang tersebar berbagai wilayah sentra.

Tak terkecuali di Kabupaten Temanggung. Dikenal sebagai salah satu daerah penghasik tembakau dengan kualitas terbaik di dunia, nyatanya tak sedikit petani yang acap kali menjerit kala musim panen raya tiba.

Menurut Sekretaris DPC Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Temanggung, Yamuhadi, selama ini para petani justru masih terbelenggu dalam situasi pelik, baik itu skala internasional, nasional, bahkan lokal.

Dijelaskan, sejauh ini benak para petani tembakau sejatinya masih terusik oleh setumpuk problematika, baik itu regulasi hingga masalah harga beli pabrikan.

Dari kacamata regulasi pemerintah pusat, muncul momok seperti belum jelasnya aturan importasi atau pembatasan impor tembakau, munculnya wacana Revisi PP 109 Tahun 2012, hingga isu kenaikan cukai pada tahun 2023 mendatang.

“Dari sisi regulasi saja, petani tembakau masih terus berharap-harap cemas pada langkah selanjutnya dari pihak pemerintah pusat. Belum lagi masalah lain,” ungkapnya, Selasa (23/8/2022).

Lanjutnya, masalah lain yang dimaksud ialah masalah cuaca yang amat berpengaruh terhadap sisi kualitas produksi tembakau. Kemudian masalah serapan dan harga beli oleh pihak industri pabrikan, hingga masuknya tembakau dari luar derah Kabupaten Tembakau.

Berdasar kondisi pada periode panen raya tahun 2021 lalu, menurutnya para petani dapat dikategorikan masih mengalami keterpurukan dan jauh dari kata untung.

“Kenapa kami bilang masih cukup terpuruk. Karena banyak tembakau petani lokal yang belum terserap. Misalpun terserap, kadang juga tidak kompetitif. Antara kualitas dan harga beli mereka jauh dari kata seimbang.

Belum lagi masuknya tembakau asal luar daerah yang ikut berkompetisi mengingat saat ini Kabupaten Temanggung bisa dibilang sudah bukan lagi sentra penghasil, namun telah menjadi pasar tembakau.

Maka dari itu, selain cuaca mendukung, pada musim panen raya tahun ini kami berharap penuh agar pihak industri atau pabrikan memiliki solusi tepat bagi petani yang memang kerap terpuruk ini,” pintanya. (riz)