Penyekatan Persimpangan Kota Magelang Mulai Dibuka, Sebagian Masih Ditutup

DIBUKA. Penyekatan di persimpangan Trio Jalan Jend Sudirman Magelang Selatan mulai dibongkar, menyusul menurunnya kasus harian di Kota Magelang. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)
DIBUKA. Penyekatan di persimpangan Trio Jalan Jend Sudirman Magelang Selatan mulai dibongkar, menyusul menurunnya kasus harian di Kota Magelang. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Penyekatan menggunakan water barrier di sejumlah titik di Kota Magelang mulai dicabut. Kebijakan ini seiring turunnya positive rate dan angka kematian akibat Covid-19.

Walikota Magelang, dr Muchamad Nur Aziz mengatakan, sebagian penyekatan masih diberlakukan. Terutama di tingkat RT dan RW se-Kota Magelang.

”Sebagian kita buka, sebagian masih disekat. Karena kita masih menerapkan PPKM Level 4,” kata dr Aziz, di sela berbelanja kebutuhan pokok di Pasar Rejowinangun Kota Magelang, Jumat (20/8).

Pelonggaran pembatasan ini diharapkan mampu memulihkan kondisi perekonomian yang terpuruk sejak PPKM darurat diberlakukan awal Juli 2021 lalu. Dia berharap, normalnya masyarakat akan seiring sejalan dengan ekonomi yang makin membaik.

”Ada masukan, supaya kita longgarkan. Tapi tetap akan kita evaluasi terus menerus. Upaya kita bersama adalah mencegah ada gelombang ketiga,” ujarnya.

Aziz menyebut, data terakhir Dinas Kesehatan Kota Magelang bahwa bed occupancy rate (BOR) sudah di bawah 50 persen. Kemudian angka kematian rata-rata tiga orang per pekan.

”Mudah-mudahan tanggal 23 Agustus sudah mencapai target. Beberapa upaya kita adalah mempercepat vaksinasi, dan mengimbau pasien isolasi mandiri, untuk pindah ke isolasi terpusat semuanya,” katanya.

Menurut dia, pasien isoter lebih terawasi dengan baik. Termasuk asupan gizi, kondisi kesehatan, pemeriksaan berkala, dan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

”Isoter itu penyembuhannya lebih cepat, dibandingkan dengan isolasi mandiri. Karena kesehatan yang isoter terawasi dengan baik, ada dokter dan perawat khusus. Sedangkan yang isolasi mandiri, tidak bisa menjamin. Saya kira memerlukan waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan isoter,” tandasnya.

Dirinya mengapresiasi lembaga lain yang dengan kesadaran sendiri menciptakan isoter bagi karyawan atau pegawainya yang terpapar Covid-19. Menurutnya, hal itu merupakan dukungan terhadap pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Artikel Menarik Lainnya :  Petani Jahe di Kabupaten Magelang Dilatih Mengelola dan Memasarkan Hasil Tani

”Tentunya kami mengapresiasi langkah-langkah yang ditempuh TNI/Polri dengan menyediakan isoter sendiri. Harapannya lebih terawasi dan terjaga betul, sehingga tidak menularkan ke yang lain, termasuk keluarganya,” paparnya.

Ketua Harian Satgas Covid-19 Kota Magelang, Joko Budiyono menuturkan, kasus Covid-19 memang terbanyak disumbangkan klaster keluarga. Hal ini ditengarai pasien terpapar Covid-19 lebih memilih isolasi mandiri, namun tidak disertai dengan pemahaman cukup.

”Menimbulkan kontak erat dengan keluarga, sehingga risikonya menjadi besar. Kami di sini berusaha, melibatkan pemangku RT/RW se-Kota Magelang untuk memberikan informasi dan edukasi, supaya siapapun yang terpapar, untuk segera mengikuti isoter. Dengan demikian, kita bisa cegah penularan klaster keluarga,” kata Joko. (wid)