Penuh Makna, Ini Cara Keraton Kanoman Cirebon Memperingati Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Abdi dalem mengikuti arak-arakan Pelal Ageng Panjang Jimat Keraton Kanoman.
Abdi dalem mengikuti arak-arakan Pelal Ageng Panjang Jimat Keraton Kanoman. (Foto: Dedi Haryadi/radarcirebon.com)

Barisan Pawai Panjang Jimat Muludan yang Menggambarkan Kelahiran Nabi Muhammad

CIREBON, MAGELANGEKSPRES.COM – Keraton Kanoman melaksanakan Pelal Ageng Panjang Jimat. Dalam prosesi itu, ada arak-arakan yang setiap barisannya punya makna tersendiri dan menggambarkan proses kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Terdapat sedikitnya 15 jenis arak-arakan dan setiap kelompoknya memiliki makna tersendiri. Prosesi sakral ini, kemudian ditutup dengan pembacaan Kitab Barjanji.

Juru Bicara Keraton Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina ST MHum menjelaskan, Panjang Jimat merupakan puncak dari memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Harapannya, dengan memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW, turut mendapatkan syafaat dan keberkahan.

Dalam prosesi Panjang Jimat sendiri, banyak simbol-simbol yang ditampilkan. Termasuk dalam arak-arakan.

Berikut rincian dan makna setiap barisannya:

  • Kepel: Menggambarkan Ki Abdul Muthalib pembesar Qabilah dari Bani Hasyim,

yakni sesepuh golongan tersebut.

  • Pemayung Krapyak: Artinya orang yang memayungi Ki Abdul Muthalib sebagai pimpinan Bani Hasyim.
  • Seorang pembawa tombak: Seseorang yang diperintah untuk mencari bidan untuk atau mengundang Dukun Paraji.
  • Barisan upacara (Reranggan) yang terdiri dari 2 Manggaran, 2 Nagan, 2 Jantungan menunjukkan kebesaran dan keagungan.
  • Seorang lelaki pembnawa obor/lilin: artinya pada saat mengundang Dukun Paraji itu di

malam hari.

Penggambaran Proses Kelahiran Manusia

  • Nyai Kethib Agung Keraton: artinya menggambarkan seorang bidan/Dukun Paraji
  • Nyai Penghulu : artinya menggambarkan Ibunda Aminah (Ibu Rosulullah) yang akan bersalin.
  • Rombongan pembawa air ramuan mawar parfum, artinya menggambarkan Kakang Kekawah (biasanya seseorang yang hendak melahirkan didahului dengan keluarnya air Kekawah terlebih dahulu)
  • Penghulu Agama atau Sultan yang diwakili oleh Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran, Patih Kesultanan Kanoman, artinya menggambarkan si bayi yang sifatnya suci.
  • -Rombongan pembawa Panjang Jimat (jumlahnya bisa 12 atau 7) berisi nasi.
  • Bila 12 buah, yaitu 1 untuk Nabi, 4 untuk para sahabat Nabi, 4 untuk madzhab, 1 untuk Wali Khutub Magrib, 1 untuk Wali Kuthub Masyrik dan 1 untuk Wali penutup.
  • Bila 7 buah, yaitu 1 untuk Nabi, 4 untuk para sahabat nabi, dan 2 untuk sekretaris nabi yaitu Sayyidina Abbas RA dan Hamzah RA, yang sekaligus diartikan untuk 7 nama-nama hari, bahwa manusia dilahirkan di dunia jatuh pada hari-hari yang 7, Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah SAW, sendiri lahir pada hari Senin.
  • Pembawa Kembang Goyang ( Biasanya 4 baki ) artinya menggambarkan adik ari-ari.
  • Pembawa Serbat ( biasanya 2 Kong: gentong wadah air ) bersama dengan rombongan pembawa baki yang berisi botol ( jumlahnya semua harus 50 buah, karena menyangkut Aqoid 50 ) artinya menggambarkan adik getih ( darah ).
  • Pembawa Boreh/Parem, biasanya berjumlah 4 piring, artinya menggambarkan pengobatan terhadap ibu yang baru bersalin, selama dalam kurun waktu 40 hari.
  • Rombongan pembawa Tumpeng Jeneng, artinya pemberian nama bayi itu harus disesuaikan dengan harinya.
  • Rombongan pembawa 4 ancak sanggar dan empat dongdangan yang lengkap berisi makanan dan buah-buahan, artinya untuk lambang keselamatan termasuk menu gizi, arti yang mendalam lagi ialah bahwa kehidupan manusia itu diciptakan oleh Sang Penciptanya mengandung anasir-anasir atau unsur pokok, yaitu menurut pisik dari zat api, zat air, zat angin/udara dan zat tanah. Dan unsur non pisiknya yang membuat manusia sebagai makhluk, yang termulia dari seluruh makhluk yaitu terdiri dari unsur : Wujud, Ilmu, Nur dan Suhud. (rdh)
Artikel Menarik Lainnya :  Sadis! Sang Suami Tusuk Istrinya Hingga Tewas di Depan Warung