Penetapan DMM sebagai Tersangka Kasus Propendakin APBD Purworejo Dinilai Janggal

KELUARGA. Suami dan anak dari tersangka kasus Propendakin DMM saat memberikan keterangan kepada wartawan, kemarin. (Foto: eko)
KELUARGA. Suami dan anak dari tersangka kasus Propendakin DMM saat memberikan keterangan kepada wartawan, kemarin. (Foto: eko)

MAGELANGEKSPRES.COM, PURWOREJO – Penetapan DMM (54) sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi Program Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Miskin (Propendakin) APBD Purworejo Tahun Anggaran 2018 dinilai janggal. Pihak keluarga menduga bahwa dalam kasus ini DMM dikorbankan.

Seperti diketahui, DMM ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Purworejo pada Kamis (10/6) lalu. DMM disangkakan telah memalsukan dasar aturan terkait pelaksanaan Propendakin, yakni Peraturan Bupati Nomor 37 Tahun 2018 sehingga berpotensi mengakibatkan Kerugian Perekonomian Daerah (Negara) karena tidak tercapainya tujuan Propendakin.

Suami DMM berinisial ES (55) kepada sejumlah awak media menyatakan bahwa istrinya tidak pernah merubah Perbub tersebut. Bahkan, istrinya tidak tahu jika ada perbub Palsu. Istrinya baru mengetahui ada Perbub palsu saat dilakukan penyidikan.

Menurut ES, jabatan DMM pada tahun 2018 hanya seorang Kepala subbidang kependudukan dan pemberdayaan masyarakat pada bidang pemerintahan sosial budaya di Bappeda kabupaten Purworejo. Karena itu, DMM tidak memiliki wewenang untuk mengubah isi Peraturan Bupati (Perbub) No 37 tahun 2018 seperti yang telah disangkakan penyidik Kejari.

“Berdasarkan cerita istri saya, dia tidak pernah merubah Perbub seperti yang telah dituduhkan, malah istri saya bingung waktu penyidikan oleh kejaksaan kok ada dua Perbub, padahal dulu istri saya pegangnya perbub yang asli dan tidak tahu kalau ada Perbub palsu itu. Apalagi kok membuat perbub palsu,” sebut ES saat ditemui bersama anaknya, Jumat (18/6).

ES menilai, DMM dikorbankan oleh pihak tertentu. Menurutnya, sangkaan Kejari terhadap istrinya tidak tepat karena istrinya tidak mempunyai kuasa untuk mengubah Perbub dan tidak ada keuntungan apa-apa yang didapat dari merubah Perbub tersebut.

“Propendakin itu kan sebenarnya yang mengurus Dinpermades, sementara istri saya di Bappeda, jadi sangkaan itu menurut saya keliru. Istri saya kan tidak pegang kendali terhadap kegiatan itu, tapi yang jadi tersangka kok malah yang dari Bappeda,” ungkapnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Melongok Gerak Kereta Api Menerobos Pandemi

Lebih lanjut, ungkap ES, meyakini bahwa istrinya juga tidak mungkin melakukan tindak pidana korupsi karena memang sepengetahuannya sang istri tidak pernah menerima uang dalam jumlah yang banyak ke kantong pribadinya.

Sepengetahuan ES, pada saat penyidikan istrinya tidak pernah didampingi oleh pengacara. Untuk sekarang ini, pihaknya telah melakukan beberapa upaya hukum dengan harapan agar hukum ditegakkan dengan seadil-adilnya.

Pengacara DMM, Agus Triatmoko, saat dihubungi melalui sambungan telepon mengatakan, terkait dikorbankan atau tidaknya DMM dalam kasus ini, pihaknya belum dapat menilainya. Akan tetapi, menurutnya, sangkaan penyidik kejaksaan tidak tepat sasaran.

“Kalau dari sangkaan penyidik kejaksaan, saya rasa tidak tepat kalau di sangkakan ke DMM,” ungkap Agus.

Sementara itu, Kasi Intel Kejari Purworejo, M Arif Yunandi, saat dihubungi belum dapat memberikan keterangan karena masih cuti. Pihaknya menyampaikan bahwa akan memberikan tanggapan pada Senin (21/6) mendatang. (top)