Penempatan PKL Luar ke Dalam Shelter Kuliner Kutoarjo Berlangsung Alot

AUDIENSI. Kepala Dinas KUKMP Purworejo memimpin pertemuan sosialisasi dan audiensi antara perwakilan PKL luar dan dalam shelter Kuliner Kutoarjo di aula kantor Dinas KUKMP Purworejo, kemarin. (Foto: eko)
AUDIENSI. Kepala Dinas KUKMP Purworejo memimpin pertemuan sosialisasi dan audiensi antara perwakilan PKL luar dan dalam shelter Kuliner Kutoarjo di aula kantor Dinas KUKMP Purworejo, kemarin. (Foto: eko)

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.COM – Sebanyak 27 pedagang dari total 62 pedagang di shelter Kuliner Kutoarjo dinyatakan resmi keluar karena lama tidak berjualan di lokasi tersebut dan telah beberapa kali mendapatkan surat peringatan. Selanjutnya sebanyak 29 pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di halaman atau luar shelter bakal ditempatkan di dalam shelter.

Namun, proses penempatan 29 PKL luar shelter yang sudah tergabung dalam wadah koperasi tersebut berlangsung alot. Pihak PKL luar shelter dan pedagang dalam shelter belum sepakat terkait waktu dan konsep penempatannya.

Hal itu mengemuka dalam pertemuan sosialisasi dan audiensi yang digelar oleh Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (KUKMP) Kabupaten Purworejo, Selasa (27/7).  Pertemuan berlangsung di Aula Dinas KUKMP Purworejo dihadiri perwakilan pedagang luar dan dalam shelter.

Pantauan di lokasi, pertemuan sempat memanas. Kedua belah pihak saling lempar argumen.

Slamet Adam, perwakilan pedagang di dalam shelter menyampaikan, pihaknya menginginkan pedagang yang menempati halaman shelter dapat segera masuk dan berdagang bersama-sama di dalam shelter agar halaman kembali sesuai fungsinya sebagai area parkir.

“Kalau mereka tetap di tempat parkir, jadinya kan orang mau parkir repot. Dagangan di dalam shelter jadi sepi, orang mau jajan masuk shelter tidak bisa parkir,” katanya.

Pihaknya juga mengharapkan kepastian dari Dinas KUKMP terkait waktu penjempatannya. Pasalnya, sudah cukup lama wacana tersebut bergulir.

“Sejujurnya kami sudah capek, dulu kami dipindahkan dari alun-alun ke shelter prosesnya cepat, hanya 7 hari. Tapi kenapa untuk proses pemindahan pedagang di parkiran ini prosesnya lama, jika dihitung dari kemarin menjelang puasa saja sudah 4 bulan,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas KUKMP Purworejo, Drs Bambang Susilo, mengemukakan bahwa pemindahan pedagang di tempat parkir perlu proses. Menurutnya, alasan para pedagang ditempatkan di parkiran selama ini karena di dalam shelter sudah tidak muat lagi.

Artikel Menarik Lainnya :  DPU PR Purworejo Atasi Kerusakan Jembatan Sedayu 3

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, para pedagang di dalam shelter banyak yang meninggalkan lapaknya. Awalnya shelter berkapasitas 70 lapak tersebut terisi 62 lapak, lalu 27 lapak ditinggalkan oleh penjual dan hanya tinggal 35 lapak.

“Setelah kosong 35 lapak itu rencananya yang diparkiran sebanyak 29 lapak akan dipindah kedalam agar parkiran bisa sesuai fungsinya lagi, tapi pemindahan itu kan juga butuh proses lagi,” katanya.

Diungkapkan, proses tersebut yakni pemastian status 27 pedagang yang meninggalkan shelter, mulai pemberian peringatan, teguran 1, teguran 2, teguran 3, hingga penegasan. Sementara proses tersebut baru rampung sekitar pekan lalu.

“Jadi itulah penyebab lamanya pemindahan. Nanti jika tidak ada proses itu, kalau lapak yang di dalam ditempati pedagang di parkiran dan pemilik lama menagih kan malah jadi persoalan lagi,” ungkapnya.

“Kami hati-hati sekali untuk itu. Selama ini prosedur aturan penegakan Perda sudah dilakukan oleh dinas sehingga secara legal formal, dari 62 sekarang tinggal 35 pedagang. Untuk mereka yang keluar itu sudah kita cabut izinnya,” imbuhnya menerangkan.

Terkait waktu dan teknis pemindahan, Bambang Susilo belum dapat memastikan kerena masih dalam masa PPKM level 4. Dalam waktu dekat, mediasi serupa akan diadakan kembali. Namun, pihaknya berharap informasi dalam mediasi kali ini telah tersampaikan kepada pedagang lain.

“Untuk waktu dan konsepnya mau seperti apa, silakan nanti kesepakatan kedua belah pihak agar ke depan tidak ada masalah.  Saya berharap semua bisa kompak karena ini kuncinya ya kompak dan konsisten,” tandasnya.

Sementara itu, Kunto Wibisono SH, kuasa hukum pedagang luar shelter, menyampaikan bahwa pada prinsipnya setuju terhadap pemindahan pedagang ke dalam shelter. Namun, pihaknya ingin mendapatkan kepastian terkait penerimaan serta konsep dari para pedagang di dalam. Sebelumnya, pihaknya juga sudah mengusulkan skema lapak jika nanti pedagang dipindah ke dalam.

Artikel Menarik Lainnya :  Gelar FGD, DPRD Purworejo Siapkan Raperda FPP

“Skemanya ada dua, pertama kami masuk, tetapi harus dilakukan penataan jangan sampai pedagang ditaruh di belakang dan tidak memiliki akses terhadap pengunjung. Kami usulkan dari dua akses jadi 4 akses. Poin kedua skemanya adalah tetap berdagang di luar, tapi dikasih tenda. Adapaun tenda tersebut supaya menjadi akses apabila yang di dalam tidak tertampung,” ungkapnya. (top)