Pemkot Magelang Gelar Pentas Wayang 15 Kali di 10 Titik

PENTAS WAYANG. Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Papa Riyadi didampingi Kabid Kebudayaan Sugeng Priyadi memberikan keterangan pers perihal rencana pertunjukan wayang 15 kali dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-1116 Kota Magelang. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)
PENTAS WAYANG. Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Papa Riyadi didampingi Kabid Kebudayaan Sugeng Priyadi memberikan keterangan pers perihal rencana pertunjukan wayang 15 kali dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-1116 Kota Magelang. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM Pertunjukan wayang dalam rangka memperingati hari jadi ke-1116 Kota Magelang tahun ini bakal berbeda. Pasalnya, kegiatan budaya dan hiburan warga itu akan digelar di 10 tempat dan 15 kali pementasan selama Mei-September 2022.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Sugeng Priyadi menjelaskan, pada tahun-tahun sebelumnya wayang kulit dilaksanakan 1 kali dan dipusatkan di Alun-alun dengan menampilkan dalang kondang dari luar Kota Magelang.

“Tapi kali ini sebagian besar kita tampilkan dalang lokal Kota Magelang, dengan tujuan memberdayakan dan memberikan kesempatan mereka untuk tampil,” kata Sugeng, Rabu (11/5).

Dalang lokal asal Kota Magelang antara lain Ki Susilo Anggoro, Ki Kaji Habeb, Ki Andritopo, Ki Royan Desa Ramadhan, dan lainnya.

Pagelaran diawali pada Sabtu, 14 Mei 2022, dengan lakon “Pandawa Nugraha” dan dalang Ki Adi Sulistyo. Lokasi wayang perdana bakal dihelat di Plengkung Kelurahan Potrobangsan, Jalan Piere Tendean, pukul 20.00 WIB.

Sugeng mengungkapkan, seluruh wayang yang ditampilkan tidak semuanya adalah wayang kulit, namun ada juga wayang Mikael yang terbuat dari mika. Kemudian ada wayang infus, wayang kardus, dan sebagainya.

Menurutnya, tujuan pagelaran wayang yang sengaja disebar di berbagai titik di Kota Magelang diharapkan agar lebih mendekatkan budaya dengan masyarakat. Hal ini sejalan dengan tujuan seni dan budaya yakni memberi edukasi dan rasa cinta masyarakat.
“Selain itu, agar masyarakat setempat juga terlibat baik dari sisi partisipasi penyelenggaraan, pemberdayaan UMKM, dan sebagainya,” imbuh Sugeng.

Ia menyebutkan, anggaran yang dialokasikan untuk gelaran wayang di 10 titik tersebut sangat mepet. Sebab, rencana penganggaran sebelumnya hanya mengakomodasi 1 kali pertunjukan saja, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, namun harus dibagi di 10 tempat.

“Bapak Walikota (Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz) berkeinginan supaya pentas wayang itu dapat menguntungkan warga setempat, sehingga dibagi di beberapa tempat,” ujarnya.

Dengan konsekuensi itu maka, setiap pertunjukan wayang kulit maka Pemkot Magelang hanya mampu memberi subsidi sebesar Rp30 juta.
“Alokasi anggaran Rp300 juta, kalau dibagi di 10 tempat rata-rata mendapat bantuan Rp30 juta. Tentunya anggaran ini sangat kecil jika dibandingkan dengan sekali saja kita menggelar pentas wayang sehingga ada beberapa pos yang tidak terakomodasi. Tapi meski begitu tanpa mengurangi maksud, tujuan, dan makna pentas wayang,” ungkapnya.

Sugeng melanjutkan, selain di 10 titik, pada bulan Mei-Juni 2022 juga dilaksanakan pentas seni dan pagelaran wayang yang merupakan pengganti kegiatan sadranan. Untuk diketahui bahwa pada saat bulan Syaban lalu, Kota Magelang menerapkan PPKM level 4, sehingga tidak bisa menggelar kegiatan seni budaya.

“Ada 5 pagelaran wayang yang merupakan kegiatan penundaan sadranan, antara lain di Kampung Nambangan, Trunan, Dudan, Tidar Campur, dan Ngentak Murni,” ujar Sugeng.
Selanjutnya di akhir pagelaran pada bulan Oktober 2022 akan ditutup dengan pagelaran wayang kulit dalam rangka sosialisasi gempur rokok ilegal dengan dalang nasional.

Rencananya akan menampilkan dalang nasional Ki Cahyo Kuntadi dari Karanganyar.
Plt Kepala Disdikbud Kota Magelang Papa Riyadi menambahkan, pagelaran wayang dinilai bagus karena mengandung budaya leluhur yang patut dilestarikan. Ada muatan-muatan yang perlu disampaikan kepada masyarakat khususnya generasi muda.

“Dalam wayang ada nilai adiluhur dan hebat, nilai kebudayaan, kerja sama, toleransi, asah asih asuh, tata krama/kesantuan,” ungkapnya.
Di sisi lain, kegiatan ini diharapkan menarik kunjungan ke Kota Magelang yang selanjutnya dapat mengangkat perekonomian masyarakat sekitarnya. (wid)