Pemkab Temanggung Gelar Festival Wiwit Mbako dan Panen Kopi Selama 3 Hari

Pemkab Temanggung Gelar Festival Wiwit Mbako dan Panen Kopi Selama 3 Hari
Kelompok seni Soreng Mataram Mergi Utomo asal Desa Getas, Kecamatan Kaloran saat unjuk kebolehan di atas panggung acara Festival Wiwit Mbako dan Panen Kopi di Alun-Alun Temanggung. Foto: rizal ifan chanaris.

TEMANGGUNG, MAGELANGEKPRES.COM – Selama tiga hari berturut-turut, terhitung mulai hari Jumat (19/8/2022) hingga Minggu (21/8/2022) Pemerintah Kabupaten Temanggung menggelar sebuah pesta seni dan budaya rakyat bertajui Festival Wiwit Mbako dan Panen Kopi yang berpusat di Alun-Alun setempat.

Beragam seni budaya dipentaskan guna mengobati dahaga masyarakat akan beragam tontonan. Sebut saja Sorengan, Kuda Lumping, Topeng Ireng, Koncer, Reog Ponorogo, hingga kesenian Dolalak. Acara sendiri berlangsung sejak sore hingga malam hari dengan disaksikan ribuan pasang mata yang membanjiri lokasi.

Bupati Temanggung, HM. Al Khadziq menyebut, selain pementasan kesenian rakyat, dalam festival tersebut juga dipamerkan sejumlah produk UMKM lokal. Sedangkan dalam ritual dan prosesi Wiwit Mbako yang digelar pada Minggu (21/8) sendiri akan ada sedikitnya 1.000 ingkung (ayam utuh) yang membanjiri Alun-alun.

“Sebagai salah satu sentra penghasil tembakau dan kopi masyarakat di Kabupaten Temanggung mempunyai tradisi yang unik, yaitu rangkaian prosesi agar sejak menanam, memproduksi, hingga masalah harga semuanya berjalan seusai yang diharapkan.

Sehingga bertanam tembakau bukan hanya sekadar kegiatan bertani dan ekonomi, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya yang adi luhung,” bebernya.

Lanjutnya, beragam prosesi dan ritual yang telah membudaya di kalangan masyarakat sentra pertembakauan sendiri sejatinya merupakan sebuah simbol doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para petani dan masyarakat pada umumnya senantiasa mendapatkan limpahan berkah dan rejeki dari komoditas emas hijau itu.

“Kami berharap, dengan gelaran akbar seperti ini, tradisi yang ada dapat semakin memperkuat tadisi serta budaya pertembakauan yang telah diwariskan oleh nenek moyang, baik terkait dengan pentas seni, ritual, doa-doanya dan sebagainya,” imbuhnya.

Lebih jauh, ia juga berharap agar prosesi selamatan wiwit panen tembakau seperti ini ke depan mampu menarik animo masyarakat luas sehingga berpotensi menjadi atraksi pariwisata yang berdampak pada sisi perekonomian. Termasuk memperkuat sendi budaya pertembakauan itu sendiri.

“Selain tembakau, kita juga memiliki komoditas unggulan lain. Yakni kopi yang juga menyimpan kultur budayanya sendiri. Sehingga harapan pemerintah ke depan festival ini akan semakin besar dan mampu mendatangkan wisatawan dari luar kota bahkan dari mancanegara sehingga orang akan berduyun-duyun ke Temanggung melihat beragam aspek kehidupan yang melekat kental. Baik kultur budaya, adat, kesenian, hingga corak perekonomian serta pertanian lokal setempat,” harapnya. (riz)