Pemilik Homestay Harus Tanggap Kebutuhan Tamu

PRAKTEK. Peserta mendapatkan pelatihan menata kamar pada kegiatan Bimbingan Teknis Program Clean, Health, SAfety dan Environment  Sustainability (CHSE),
PRAKTEK. Peserta mendapatkan pelatihan menata kamar pada kegiatan Bimbingan Teknis Program Clean, Health, SAfety dan Environment  Sustainability (CHSE),

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG – Pemilik homestay perlu memerhatikan masukan dari tamunya, sebab seringkali tamu bisa memintarkan. Tak hanya standar pelayanan, tamu sering memberikan masukan tentang hal-hal kecil yang memuaskan mereka saat menggunakan layanan homestay.

Standar pelayanan homestay adalah kamar tamu, kamar mandi, dapur dan makan minum. Namun, di luar itu ada banyak layanan yang bisa memuaskan tamu.

“Seringkali, pemilik homestay itu dipintarkan oleh tamu. Jadi anggaplah tamu itu saudara yang datang, maka layanilah dengan baik,” ucap Ketua Paguyuban Kampung Homestay Borobudur, Muchlis

Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Bimbingan Teknis Program CHSE (Clean, Health, SAfety dan Environment  Sustainability di Grand Artos Hotel & Convention Magelang, Senin (23/11/2020).

Saat ini, Kampung Homestay Borobudur memiliki 160 kamar di kawasan Borobudur, dengan jumlah yang terus bertambah. Setiap pemilik homestay harus terus meningkatkan fasilitas dan layanannya. Jika tamu yang menginginkan fasilitas, menurutnya akan lebih mengena pada pemilik homestay. Misalnya adalah ketika pemilik homestay memilih bertahan dengan tidak memberikan fasilitas kamar mandi di dalam kamar.

Baca Juga
Tim PPMT Unimma Dampingi Siswa Belajar Daring

“Saat ramai, dan tidak ada pilihan lain, tamu akan terpaksa menerima kamar tersebut. Tapi saat sepi, tamu akan tanya, ada kamar yang lain tidak?” Tentu pengurus akan tidak enak untuk berbohong. Pemilik homestay jadi berpikir untuk menambah fasilitas itu. Nah, saat itulah pemilik jadi dipintarkan oleh tamunya,” jelas Muchlis.

Muchlis mencontohkan, salah satu kejadian lain adalah ketika ada tamu yang datang membawa mobil, mereka memberi masukan agar ada kran air di depan homestay untuk sekadar mencuci mobil. Pemilik homestay jadi tahu bahwa mereka perlu memberikan fasilitas tersebut. Selanjutnya, saat tamu mencuci mobil dengan ember, maka pemilik homestay jadi perlu menyediakan slang air. Penambahan sejumlah fasilitas itu jarang ada di materi pelatihan, namun diketahui dari tamu yang datang.

Artikel Menarik Lainnya :  E-KTP Anda Rusak? Disdukcapil Kota Magelang Siap Ganti yang Baru

Selain meningkatkan fasilitas dan pelayanan, Muchlis menambahkan pemilik homestay juga perlu memiliki jaringan koordinasi dengan lingkungannya, yakni destinasi, atraksi dan UMKM.

“Saya tidak punya VW, tetapi saya bisa menjual 100 VW. Ada banyak wahana lain di kawasan Borobudur seperti andong, ontel, bahkan odong-odong atau kereta mini. Hubungan baik dengan mereka akan mempermudah kita saat melayani tamu, bahkan saat tidak ada budget atau budget sangat terbatas,” jelasnya.

Muchlis menambahkan, mencari tamu itu penting, namun akan lebih penting jika untuk menjaga tamu yang sudah datang. Mereka akan menyampaikan dan merekomendasikan pada teman-teman mereka. Ini akan menjadi marketing gratis, yakni dari tamu yang sudah merasakan sendiri pelayanan di sebuah homestay.

Kegiatan pelatihan tersebut digelar oleh Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olaraga Kabupaten Magelang, diikuti oleh 45 orang pengelola homestay di Kabupaten Magelang. Para peserta juga dilatih langsung untuk menata kamar yang dipandu oleh petugas di Grand Artos Hotel & Convention Magelang.(cha).