Pedagang dan UMKM di Temanggung Kecewa, Sudah Ikut Antre Panjang dan Berjam-jam, Eh.. Migor Curahnya Kehabisan

KECEWA. Ratusan pedagang UKM di Temanggung kecewa tidak mendapatkan jatah minyak goreng. (foto: setyo wuwuh / temanggung ekspres)
KECEWA. Ratusan pedagang UKM di Temanggung kecewa tidak mendapatkan jatah minyak goreng. (foto: setyo wuwuh / temanggung ekspres)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM Mahalnya harga minyak goreng (migor) saat ini, membuat pedagang dan pelaku UMKM di Temanggung rela mengantre panjang.

Namun antrean yang memakan waktu lebih dari dua jam harus dibayar dengan kekecewaan, lantaran tidak mendapatkan jatah migor curah.

Warga Kelurahan Banyuurip Temanggung, Siti Darsanah (54) mengatakan, migor curah saat ini menjadi salah satu bahan pokok yang paling dicari oleh masyarakat, terutama para pedagang dan pelaku UMKM. Karena, harga antara migor curah dengan migor kemasan terpaut sangat jauh.

Bahkan masyarakat rela mengantre hingga berjam-jam untuk mendapatkan migor curah dengan harga yang murah. Hanya saja antrean yang memakan waktu hingga berjam-jam itu kadang harus dibayar dengan kekecewaan.

“Saya ini sudah mengantre lebih dari dua jam, tapi apes giliran sudah dekat malah minyak gorengnya sudah habis,” ungkapnya.

Padahal ia mengaku sudah rela menutup warungnya hanya demi mendapatkan migor curah. Namun pada kenyataanya ia tetap tidak bisa mendapatkannya meskipun sudah membuang waktu yang cukup lama.

Seharusnya, pedagang migor curah memberikan pengumuman kepada masyarakat yang mengantre, bahwa migor curah sudah mulai akan habis, sehingga masyarakat tidak terus menerus mengantre.

“Sama sekali tidak ada pemberitahuan, masyarakat tetap mengantre, giliran sudah dekat ternyata migor curahnya sudah habis, ini kan membuat kecewa masyarakat dan sudah membuang waktu,” tuturnya.

Wahyu (46) pedagang lainnya menuturkan hal yang sama, sebagai pedagang dirinya sangat membutuhkan migor dalam jumlah yang cukup banyak, setidaknya dalam satu hari bisa habis 3 sampai 5 liter migor.

“Hari ini saya tidak dapat jatah, katanya sudah habis karena sejak pagi buta banyak yang mengantre,” tuturnya.

Biasanya dalam kondisi normal, paling tidak bisa membeli migor curah tiga kali dalam seminggu, sekali beli paling tidak 15 liter. Jumlah tersebut sudah memenuhi kebutuhan untuk berjualan selama tiga hari.

“Sekarang jatahnya belum tentu, ini sudah 10 hari baru datang, kalau kondisinya seperti ini terus maka pedagang dan rakyat kecil yang semakin susah,” katanya.

Ia berharap, ke depan distribusi migor bisa semakin membaik, paling tidak tiga kali dalam seminggu, sehingga semua masyarakat bisa mendapatkan migor curah dengan harga yang terjangkau.

“Kalau habis ya terpaksa beli minyak kemasan, padahal harga minyak kemasan sudah mencapai Rp50 ribu untuk kemasan 2 liter, sedangkan harga migor curah hanya Rp15.500 per liternya,” keluhnya.

Sementara itu Agus pedagang migor di Kelurahan Padangan Temanggung menuturkan, biasanya dalam kondisi normal dalam satu minggu dipasok tiga kali dengan sekali pasok 9 ton migor curah. Namun saat ini distribusi sangat tidk menentu kapan waktunya.

“Ini sudah 10 hari baru dikirim dan jumlahnya hanya 7 ton saja, kapan lagi mau dikirim juga belum tahu,” ungkapnya.

Ia berharap distribusi migor bisa normal kembali, sehingga tidak ada masyarakat yang kecewa karena tidak mendapatkan migor curah. Harga migor curah dijual dengan harga Rp15.500 per liter, setiap masyarakat yang mengantre hanya mendapatkan jatah 15 liter saja

“Sebenarnya saya juga kasihan, tapi mau bagaimana lagi memang jatahnya sedikit. Semoga saja ke depan bisa lebih banyak dan teratur, kasihan masyarakat sudah mengantre tapi belum bisa mendapatkan jatah migor curah” tuturnya. (set)