Pedagang BBM Eceran Kelimpungan, SPBU Larang Pembelian dengan Jeriken

Sejumlah pedagang BBM eceran akhir-akhir ini mengaku kesulitan memperoleh Pertalite di seluruh SPBU yang ada. Alhasil harga jualnya pun ikut melambung. (Foto: rizal ifan chanaris.)
Sejumlah pedagang BBM eceran akhir-akhir ini mengaku kesulitan memperoleh Pertalite di seluruh SPBU yang ada. Alhasil harga jualnya pun ikut melambung. (Foto: rizal ifan chanaris.)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Sejumlah pedagang Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran di Kabupaten Temanggung belakangan ini mengeluhkan sulitnya membeli Pertalite. Pasalnya, pihak SPBU telah melarang pembelian dengan menggunakan wadah berupa jeriken.

Para pengecer BBM menyebut, situasi ini mulai terasa sesaat usai pemerintah menetapkan kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 12.500 per liter pada 1 April 2022 lalu.

Mereka mengaku khawatir bisnisnya selama ini dengan menjual BBM eceran, perlahan mulai gulung tikar usai ditinggal para pelanggan dari berbagai jenis kendaraan bermotor.
Bukan tanpa alasan, pelarangan pembelian menggunakan wadah jeriken membuat mereka berputar otak mencari siasat agar tetap bisa membeli Pertalite untuk dijual kembali. Antara lain berkulakan menggunakan sepeda motor maupun mobil.

Meski sulit, upaya tersebut dilakukan hanya demi agar mereka bisa tetap menjual Pertalite eceran bagi masyarakat sekaligus mempertahankan bisnis yang telah digeluti sejak cukup lama.

Eko (45), salah seorang pemilik Pertamini di Temanggung mengaku dirinya terpaksa menaikkan harga jual Pertalite eceran dari sebelumnya Rp 8.800 per liter, kini dijual seharga Rp 10.000 per liter. Alasannya, sulit memperoleh BBM jenis tersebut.

“Sekarang tidak boleh membeli menggunakan jeriken. Padahal sebelum-sebelumnya saya bisa membeli di salah satu SPBU langganan sampai 5 atau 6 jeriken dalam sehari. Sekarang tidak boleh lagi.

Makanya, sekarang saya mensiasatinya dengan berkulakan menggunakan sepeda motor karena memang gak ada mobil. Beli di SPBU, sampai rumah disedot untuk dijual eceran. Begitu bolak-balik terus. Kalau enggak ya gimana wong tangki motor kan volumenya gak seberapa. Makanya harganya saya naikkan,” bebernya, Senin (18/4).

Suroto (58), pedagang BBM eceran dengan menggunakan media botol menambahkan, berbeda dengan Pertalite, pihak SPBU masih memperbolehkan pembelian jenis Pertamax berapapun jumlahnya menggunakan jeriken.

Namun demikian, di tingkat masyarakat, harga Pertamax senilai Rp 12.500 per liter dan diecerkan lagi sebesar Rp 13.500 per liter nyatanya menuai sejumlah keluhan. Pelanggannya dulu bahkan kini mulai beralih membeli langsung ke SPBU atau Pertashop yang mulai menjamur.

“Jelas jumlah pembeli saya berkurang. Mau jual Pertalite eceran sudah sulit, jual Pertamax harganya dibilang mahal. Banyak yang langsung beli di SPBU karena selisihnya lumayan, Rp 1.000 dibanding eceran. Biasanya saya bisa jual 50 sampai 70 an botol per hari. Sekarang paling 20 an saja rata-rata,” keluhnya.

Sementara itu, Afandi (23), salah seorang warga Kecamatan Bulu mengaku dahulu memang berlangganan BBM eceran, baik Pom Mini maupun wadah botol dengan pertimbangan lokasinya yang berdekatan dengan tempat tinggalnya.

Akan tetapi, setelah kenaikan harga Pertamax dan mulai langkanya Pertalite eceran, dirinya lebih memilih membeli ke SPBU karena selisih harganya yang cukup lumayan.

“BBM kan kebutuhan utama saya berkendaraan. Dulu beli Rp 10.000 di Pom Mini dekat rumah masih dapat satu liter lebih. Sekarang hanya satu liter Pertalite saja. Bahkan kadang adanya cuma jenis Pertamax saja yang dijual seharga Rp 13.500 di tingkat pengecer. Kan banyak selisihnya mending saya langsung ke SPBU,” pungkasnya. (riz)