Paseso Strategi Mengurangi Resiko Erupsi Merapi

PENGABDIAN. Tim PPDM UNIMMA melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema utama Mewujudkan Deyangan Sebagai Desa Penyangga Tangguh dalam Implementasi Desa Bersaudara selama tiga tahun,
PENGABDIAN. Tim PPDM UNIMMA melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema utama Mewujudkan Deyangan Sebagai Desa Penyangga Tangguh dalam Implementasi Desa Bersaudara selama tiga tahun,

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG  – Paseduluran Ndeso (Paseso) atau Sister Village, atau istilah lain Desa Bersaudara merupakan paguyuban warga desa untuk mengurangi risiko bencana erupsi Gunung Merapi di Magelang. Pada tahun 2010 lalu, erupsi Gunung Merapi membuat ribuan warga terdampak bencana dahsyat. Setidaknya 23 ribu mengungsi di 152 titik lokasi.

Ketua Tim Program Pengembangan Desa Mitra, Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) Kanthi Pamungkas MPd mengatakan, saat pengungsian, mereka terpisah tanpa adanya koordinasi. Hal ini menyulitkan penanganan dari pemerintah. Belum lagi masalah lain seperti warga pengungsi yang terpisah dari keluarga, kesehatan barak, logistik, dan lainnya, semakin mempersulit pemerintah untuk memberi kebijakan di kawasan pengungsian.

“Tetapi lewat Paseso ini kemudian garis koordinasi menjadi jelas, dan pemerintah bisa segera melakukan penanganan karena masyarakatnya yang tergabung dalam satu wadah,” kata Kanthi, kemarin.

Ia menyebut, salah satu contoh adalah Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Desa tersebut, kala itu disiapkan sebagai desa penyangga pengungsian dari wilayah Kecamatan Dukun.

“Saat erupsi Gunung Merapi 2010 yang lalu paling banyak pengungsinya dari Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, sehingga sudah lebih banyak mengenal karakter sosialnya jika dibandingkan dengan desa terdampak lainnya (KRB III),” ujarnya.

Menurutnya, sifat masyarakat di antara kedua desa ini dirasa sudah saling mengisi. Untuk itu, pihaknya memilih kedua desa untuk memberikan pelatihan dan bekal keterampilan pada kondisi darurat.

“Jadi antara Desa Terdampak dengan Desa Penyangga memiliki komitmen bersama, kita dorong itu. Kemudian juga menyelenggarakan aktivitas-aktivitas yang dilandasi kebersamaan, serta membangun tradisi keterbukaan,” imbuhnya.

Baca Juga
Zona Kuning, KBM Bisa Tatap Muka

Ia menjelaskan bahwa kesiapan dan ketangguhan sebagai Desa Peyangga merupakan hal yang sangat penting, terlebih pada saat kondisi pandemi Covid-19 seperti yang dirasakan sekarang. Karena apabila sewaktu-waktu terjadi erupsi, mereka harus siap menerima kedatangan ribuan pengungsi.

Artikel Menarik Lainnya :  Aji Mumpung! Gunung Tidar Ramai Diserbu Wisatawan Selama Kota Magelang Menyandang Level 1 PPKM

“Kalau terjadi sekarang mereka harus tetap mampu menolong dengan protokol kesehatan yang terstandar. Hal ini dapat menguatkan untuk melakukan aksi penyelematan pengungsi dalam situasi apapun,” ucapnya.

Guna mendukung program pemerintah, Tim PPDM UNIMMA yang beranggota Priyo MKep,  Ahwy Oktradiksa MPdI, Agus Setiawan MEng, melalui Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kemenristekdikti melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema utama Mewujudkan Deyangan Sebagai Desa Penyangga Tangguh dalam Implementasi Desa Bersaudara selama tiga tahun.

“Tahun pertama rangkaian kegiatan kami fokus pada enabling, tahun kedua fokus ke empowering, dan tahun ketiga fokus protecting,” imbuh Kanthi.

Pada tahun ketiga ini, kegiatannya berupa pembangunan jejaring, pemantapan keterampilan anggota Lembaga Penanggulangan Bencana Desa (LPBDes) dalam penanganan kegawatdaruratan, trauma healing, dan manajemen dapur umum. Kemudian, sistem informasi pengelolaan logistik berbasis IT, upaya-upaya untuk ketahanan pangan pengungsi berbasis ekonomi kreatif, dan lain sebagainya. (wid)