Pasar Sapuran 4 Tahun Mangkrak, Pembangunannya akan Dilanjutkan

TERHENTI. Kondisi Pasar Sapuran yang mangkrak lantaran pembangunannya terhenti selama empat tahun.
TERHENTI. Kondisi Pasar Sapuran yang mangkrak lantaran pembangunannya terhenti selama empat tahun.

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM – Setelah Pasar Induk Wonosobo dianggap selesai, persoalan pasar tradisional di Wonosobo belum tuntas. Pemkab setempat ternyata belum menyelesaikan Pasar Sapuran. Sekitar 4 tahun mangkrak, pembangunan pasar tersebut bakal dilanjutkan dengan anggaran Rp 9 miliar pada tahun 2022.

Kondisi pasar sapuran yang belum sempurna itu, saat ini tampak kumuh, kondisi temboknya sudah kusam, cat mengelupas. Bahkan sejumlah kios ada yang rusak, selain itu tumbuh rumput dan ilalang di sekitar pasar. Sementara pedagang Pasar Sapuran masih berada di penampungan yang disewa oleh pemkab, dengan biaya ratusan juta per tahun.

“Di tahun 2022 ini pembangunan Pasar Sapuran akan dilanjutkan. Kita sudah dapat anggarannya. Sekitar Rp 9 miliar untuk menyelesaikan  pembangunan pasar itu,” ungkap Sekretaris Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM  Agung Raharjo  Prabowo, kemarin.

Menurutnya, pembangunan Pasar Sapuran akan kembali dilanjutkan tahun 2022 ini. Dengan gelontoran anggaran Rp9 miliar. Saat ini proses sudah masuk di tahap lelang. Sehingga pascalelang itu selesai dilaksanakan tinggal menunggu proses pembangunan dikerjakan.

“Kita targetkan pada tahun 2023 nanti Pasar Sapuran sudah bisa ditempati,” ucapnya.

Dijelaskan selama ini para pedagang Pasar Sapuran  yang jumlahnya 1.000 lebih itu masih menggunakan tempat penampungan sementara. Yang berada di bekas pabrik milik CV Mekar Abadi. Dengan biaya sewa pertahun mencapai ratusan juta.

“Pedagang masih di pasar penampungan, kita sewa tahunan di lokasi itu,” ujarnya.

Dengan munculnya anggaran miliaran itu, ia berharap jika pembangunan bisa segera dikerjakan. Sehingga para pedagang bisa segera menempati pasar yang selama ini telah dibangun.

Penyelesaian Pasar Sapuran membutuhkan tambahan Rp10 miliar, namun pada tahun 2019, pemkab tidak menganggarkan penyelesaian pembangunan pasar tersebut. Hal tersebut menjadikan pasar sapuran mangkrak. Apalagi dua tahun kemudian ditimpa pandemi covid 19.

Dijelaskan, pembangunan yang belum selesai ada di bagian belakang. Total jumlah pedagang mencapai  seribu lebih. Jumlah kios belum terpenuhi, baru sekitar ratusan. Padahal untuk sewa relokasi pedagang mencapai ratusan juta.

Padahal pembangunan Pasar Sapuran dilakukan pada  tahun 2018, bersama dengan sejumlah pembangunan pasar tradisional tingkat kecamatan lainya yaitu Pasar Selomerto, Pasar Leksono, Pasar Kejajar dan Pasar Kepil, namun untuk Pasar Sapuran tidak selesai. (gus)