Partisipasi Sekolah Rendah

pernikahan dini
SARASEHAN. Bupati Eko Purnomo gelar sarasehan dengan warga Dusun Jambu Wonokromo Kecamatan Mojotengah 

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO– Angka partisipasi sekolah masih rendah, pernikahan dini masih tinggi, menjadi fokus perhatian Pemkab Wonosobo dalam kegiatan Tilik Ndeso di Kecamatan Mojotengah kemarin. Lama sekolah masih diangka 6,51. Sedangkan pernikahan di bawah umur mencapai 1.343 untuk perempuan dan 62 orang laki-laki.

“Kami mengajak warga di wilayah Kecamatan Mojotengah, ayo sekolah, demi peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ungkap Bupati Wonosobo Eko Purnomo usai gelar sarasehan dengan warga Dusun Jambu Wonokromo Kecamatan Mojotengah kemarin.

Menurutnya, peningkatan sumber daya manuisa tersebut penting untuk menyongsong perkembangan zaman yang semakin maju serta meningkatkan daya saing petani Wonosobo.

Baca Juga
Bunga Tabebuya yang Mirip Sakura Mekar di Magelang

“Peningkatan kualitas SDM ini untuk mendukung kemajuan daerah, utamanya dalam mengolah produk pertanian dan sektor wisata,” ujarnya.

Bupati menambahkan, pemerintah kabupaten hadir ke masyarakat desa, melihat langsung kondisi desa serta menampung aspirasi dari masyrakat. Selain itu program –program yang sedang dijalankan oleh pemkab juga di sosialsiasikan.

“Jadi kita tidka hanya duduk di kantor, tapi terjun langsung melihat kondisi masyrakat dan meyerap aspirasi mereka,” ucapnya.

Sementara itu, Sekda Wonosobo One Andang Wardoyo mengemukakan, bahwa selain zona merah pendidikan, Kecamatan Mojotengah juga zona merah pernikahan dini dan buang air besar sembarangan.

“Melintas di empat desa, kita kampanyekan itu, angka partisipasi sekolah masih cukup rendah dan angka perkawinan dini masih tinggi, “ katanya.

Menurutnya, pemerintah desa perlu bersinergi dengan pemkab dalam menekan angka kemiskinan di desa. Di antaranya mengawal aktif sejumlah program prioritas seperti masalah jambanisasi, angka partisipasi sekolah dan tinggi pernikahan dini.

Baca Juga
260 Personel Diterjunkan Amankan Pilkades Bandongan

“Semua harus sinergi, desa tidak hanya berpangku tangan dan bersifat pasif. Mereka harus pro aktif bersama tekan angka kemiskinan itu,” terangya

Untuk masalah pertanian sebagai basis utama penghidupan masyarakat di desa, pihaknay mengaku sedang menyiapkan formulasi yang tepat agar bisa berkembang. Sebab, selama ini daya saing petani masih rendah, ongkos produksinya masih tinggi dan pasar yang tidak stabil.

“Fokus kita nanti pada peningkatan kualitas SDM, ada potensi wisata dan pertania, pendidikan karakter dan entprnenur, sehingga mampu mengolah potensinya, selama ini petani daya saingnya rendah, karena cost produksinya tinggi, “ pungkasnya. (gus)