Pandemi, Tradisi Merti Desa di Purworejo Tetap Dihelat Secara Sederhana

NETEPI WAJIB. Warga di Kelurahan Purworejo tetap menggelar metri desa di balai kelurahan setempat untuk netepi wajib yang sudah membudaya, meski dalam situasi pandemi Covid-19, kemarin malam.

MAGELANGEKSPRES.COM,PURWOREJO – Tradisi merti desa yang rutin digelar tahunan secara turun-temurun tetap dipertahankan oleh masyarakat di sejumlah desa dan kelurahan di Kabupaten Purworejo. Namun, kegiatan merti desa di tengah masa pandemi Covid-19 tahun ini berlangsung lebih sederhana dan jauh berbeda dari biasanya.

Warga di Kelurahan Purworejo Kecamatan  Purworejo yang notabene masuk wilayah perkotaan menjadi salah satunya. Hanya saja, Pemerintah Kelurahan banyak memberikan rambu dalam penyelenggaraan kegiatan karena tengah terjadi wabah Covid-19.

“Inti-inti kegiatan kita tetap gelar. Tapi protokol tetap kita pegang, dimana ada sejumlah pembatasan dalam setiap rangkaiannya,” kata Lurah Purworejo, Adi Pawoko, Minggu (7/3).

Baca Juga
Tiga Orang Disabilitas Terima Tasaruf Baznas Purworejo

Dijelaskan, kegiatan itu sepenuhnya disokong oleh mayarakat. Seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka menggalang iuran untuk kegiatan tersebut sehingga tidak membebani pemerintahan kelurahan. Sebelum kegiatan dihelat, semua komponen masyarakat dikumpulkan untuk memastikan apakah kegiatan itu akan tetap digelar atau tidak.

“Ini adalah kesepakatan warga semua. Karena situasi Covid-19, kami memang menawarkan ke masyarakat tetang penyelenggaraannya,” jelasnya.

Rangkaian Metri Desa cukup panjang dan diawali dengan pengajian bersama pada Senin (1/3) malam lalu. Dilanjutkan pada Kamis (4/3) dengan ziarah ke salah satu pepunden, yakni Mbah Brengkel. Pagi harinya, unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat juga melakukan ziarah di Makam Nyai Laos dan Pangeran Hidayat di kompleks pemakaman Plaosan.

“Sore harinya kita menggelar kenduri agung di pendopo kelurahan,” ungkapnya.

Tidak berhenti di situ, salah satu puncak kegiatan adalah pagelaran kesenian Tayub yang diadakan di Balai Kelurahan. Rangkaian tradisi ini tidak pernah ditinggalkan oleh masyarakat. Pasalnya, ada beberapa mitos yang berkembang di tengah masyarakat.

Artikel Menarik Lainnya :  Dua Pekan Diburu, Polisi Akhirnya Berhasil Amankan ODGJ

“Tayub tetap digelar untuk netepi wajib. Biasanya kan bisa sampai pagi hari, tapi untuk kali ini hanya ditarikan untuk unsur-unsur tertentu saja,” bebernya.

Lebih lanjut Adi menyebut bahwa merti desa ini memang menjadi salah satu momen yang ditunggu oleh masyarakat di kelurahan yang terdiri atas 82 RT dan 18 RW ini. Biasanya juga kerap diadakan pawai keliling kelurahan dengan melibatkan banyak masyarakat.

“Pawai memang tidak diadakan setiap tahun, harusnya di tahun besok pawai itu diadakan. Tapi kita melihat kondisi dulu, apakah covid-19 masih ada atau tidak,” tandasnya. (top)