Paket Linthingan, Produk UKM Unggulan Baru di Temanggung

Paket Linthingan, Produk UKM Unggulan Baru di Temanggung
Nama tembakau lembutan (pojok sebelah kiri gambar) akhir-akhir ini cukup melejit dan menjadi salah satu produk UKM unggulan baru di Kabupaten Temanggung yang gurita pemasarannya telah merambah ke daerah lain. Foto: rizal ifan chanaris.

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Melihat tingginya animo masyarakat untuk kian membumikan budaya “Nglinthing”, Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Temanggung, mulai menggencarkan promosi produk “Paket Linthingan” di berbagai ajang pameran.

Pada umumnya, paket linthingan sendiri berisi tembakau lembutan, cengkeh, dan papir (garet). Di Kabupaten Temanggung sendiri, paket-paket ini banyak dijual di warung-warung kelontong, kios tembakau lembutan, hingga lokasi dagangan lainnya.

Paket ini banyak diburu oleh para perokok untuk menggantikan kebiasaan sebelumnya membeli rokok bungkusan berbagai merek yang harganya saat ini dianggap mulai menguras kantong.

Untuk dapat menikmati rokok linthingan, masyarakat dapat nglinthing sendiri dengan berbagai bahan yang ada dalam satu paket linthingan tersebut. Biasanya, harga per paket dibanderol mulai Rp 10.000 hingga Rp 25.000 tergantung kualitas dan kuantitas tembakau.

“Melihat tingginya animo masyarakat yang beralih dari rokok ke linthingan, oleh sebab itu kami mulai ikut membantu mempromosikan paket linthingan berisi bahan utama tembakau rajangan lembutan asal Temanggung di berbagai ajang, termasuk Kebumen International Expo (KIE),” Sekretaris Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Temanggung, Edi Purnomo, Kamis (30/6/2022).

Ia mengaku, selain melihat pangsa bisnis yang cukup luas, dalam paket linthingan sendiri terkandung banyak makna. Antara lain melestarikan budaya masyarakat Kabupaten Temanggung secara turun-temurun yang pada hakikatnya sangat senang nglinthing.

Selain itu, langkah ini berarti ikut mempromosikan tembakau berkualitas asli dari lahan-lahan yang tersebar Kabupaten Temanggung mulai Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau atau biasa disebut sabuk gunung.

“Kebiasaan nglinting ini sudah mulai membudaya di banyak kalangan dan segmen usia. Sekarang anak-anak muda tidak canggung lagi untuk nglinthing saat nongkrong di kafe-kafe. Bahkan mereka yang bekerja di kantoran juga tidak canggung. Apalagi ditambah semakin banyaknya kios tembakau lembutan yang menjamur di hampir seluruh kecamatan. Tidak hanya tembakau, cengkih, dan garet saja, namun disana juga dijual pernak-pernik untuk nglinting seperti slepen atau wadah yang terbuat dari berbagai bahan baku dan model,” urainya. (riz)