Omset Penggemukan Hewan Ternak Merosot Dampak PMK

Omset Penggemukan Hewan Ternak Merosot Dampak PMK
Beginilah suasana di lokasi usaha penggemukan domba milik Muhammad Syafi’i di Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Foto: rizal ifan chanaris.

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Munculnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang merebak di sejumlah daerah, ternyata dampaknya sangat terasa. Salah satunya usaha penggemukan hewan ternak.

Seperti disampaikan salah seorang pengusaha penggemukan hewan ternak, khususnya jenis domba asal Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Muhammad Syafi’i (32).

Ia mengungkapkan, semenjak merebaknya PMK yang dilanjutkan dengan kebijakan penutupan sejumlah pasar hewan atau ternak beberapa waktu lalu, pihaknya cukup kesulitan memperoleh pasokan bakalan domba.

Padahal sebelumnya, pasokan bakalan domba sangat mudah diperoleh dari beberapa wilayah seperti lokalan Temanggung, Magelang, Jawa Barat, Lampung, hingga Medan, Sumatera Utara.
“Terakhir saya meminta pengiriman satu truk bakalan domba berjumlah kurang lebih 200 ekor. Namun sampai sebulan belum juga mendarat di kandang penggemukan milik saya,” jelasnya, Rabu (22/6/2022).

Menurutnya, dengan siklus yang sangat pendek, hanya 2 sampai 3 bulan saja, bisnis penggemukan domba miliknya berpotensi mengalami penurunan omset dan tersendatnya perputaran usaha.

Pasalnya, selain kesulitan mendatangkan pasokan, harga bakalan di pasaran saat ini juga sudah melambung dari sebelumnya hanya Rp 50.000 per kilogram, kini mencapai Rp 53.000 per kilogramnya.

Hal ini diperparah dengan harga karkas atau daging yang masih belum beranjak dari harga lama.

“Biaya pembelian bakalan naik, tetapi pemasukan dari penjualan ternak tetap karena harga karkasnya juga belum naik sampai saat ini. Jadi otomatis labanya menurun dan perputaran bisnisnya semakin lambat karena kesulitan memperoleh barang (bakalan domba-red),” jelasnya lagi.

Syafi’i menambahkan, sejatinya pasar penggemukan ternak cukup terbuka lebar. Hal ini dikarenakan permintaannya sampai saat ini masih sangat tinggi, terutama menuju Jogjakarta dan Tegal.

“Melihat situasi PMK disertai penutupan sementara waktu pasar ternak di sejumlah daerah termasuk Kabupaten Temanggung, kami sejauh ini hanya bisa menunggu kiriman barang sekaligus merawat sisa ternak yang ada di kandang. Upaya kami mencegah potensi penularan PMK antara lain memberlakukan treathment terhadap domba bakalan yang datang ke kandang seperti pemberian obat cacing, vitamin, hingga secara rutin mencukur bulu pada ternak domba. Kita juga selalu menyediakan obat kulit hingga mengurangi aktifitas kontak ternak dengan pengunjung kandang,” pungkasnya. (riz)