Ngopi Bareng Pak Wali, Notaris Keluhkan Pajak Jual Beli

DISKUSI. Notaris tengah diskusi dengan Walikota dan pejabat Pemkot Magelang dalam agenda ‘Ngopi Bareng Pak Wali’ di Taman Kyai Langgeng (23/2)(foto : wiwid arif/magelang ekspres)
DISKUSI. Notaris tengah diskusi dengan Walikota dan pejabat Pemkot Magelang dalam agenda ‘Ngopi Bareng Pak Wali’ di Taman Kyai Langgeng (23/2)(foto : wiwid arif/magelang ekspres)

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz menerima keluhan dari para notaris, lantaran tingginya pajak saat transaksi jual beli. Hal itu terungkap saat “Ngopi Bareng Pak Wali” dengan para notaris digelar di Taman Kyai Langgeng, Rabu (23/2).

“Pemkot tentu membutuhkan masukan dari notaris dan juga profesi lain yang kemudian ditindaklanjuti. Sebelumnya kita sudah berkumpul dengan dokter dan kontraktor, semua sama kita diskusikan apa yang menjadi ide, gagasan, dan masukan kepada pemerintah bisa kita tindaklanjuti,” kata dr Aziz didampingi Wakilnya KH M Mansyur, dan sejumlah pejabat Pemkot Magelang.

Notaris, katanya, perlu diajak diskusi dengan pemerintah. Termasuk memberikan ide/gagasan yang membangun demi Kota Magelang.

“Forum ini cocok untuk kita saling berdiskusi. Apa yang diinginkan atau masukan apa dari notaris terhadap pemerintah bisa disampaikan di forum ini,” ujarnya.

Aziz menjelaskan, dirinya seringkali mendengar keluhan para notaris terkait sejumlah hal. Yang dominan, mereka mengeluhkan biaya pajak yang tinggi saat transaksi jual beli tanah.

“Harapannya melalui forum ngopi bareng ini ada solusi,” jelasnya.

Menurutnya, ‘Ngopi Bareng Pak Wali’ adalah salah satu dari 9 program unggulan yang diusungnya. Upaya ini bertujuan untuk menjalankan pemerintahan secara bersama-sama, termasuk peran serta masyarakat.

“Yang bersama kita saat ini merupakan para notaris. Profesi bergengsi yang saya harap bisa membantu pembangunan Kota Magelang,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, dokter spesialis penyakit dalam ini juga turut menyosialisasikan Rodanya Mas Bagya (Program Pemberdayaan Masyarakat Bahagia) dalam bentuk stimulus Rp30 juta per RT per tahun. Rodanya Mas Bagya juga masuk dalam 9 program unggulannya.

“Kita fokus menguatkan 9 program unggulan, seperti Rodanya Mas Bagya untuk mendorong pemberdayaan masyarakat yang betul-betul pengelolaan dana itu oleh masyarakat untuk masyarakat. Dari mulai perencanaan, penganggaran, kemudian evaluasi semua dilakukan oleh masyarakat. Peran pemerintah hanya sebagai fasilitator,” jelasnya.

Program berikutnya adalah Balai Belajar. Hal ini mengingat pembelajaran tatap muka (PTM) ditiadakan lagi karena Kota Magelang masuk PPKM Level 4, sehingga balai belajar harus diintensifkan kembali.

“Program lainnya seperti Ngopi Bareng ini juga penting agar masukan dari masyarakat bisa kita serap. Kekompakan dan kepedulian di antara kita warga Kota Magelang akan membuat semakin baik menuju visi Maju, Sehat, dan Bahagia,” ujarnya. (wid)