Minyak Goreng Kemasan Semakin Sulit Didapat. Sejumlah Pedagang di Pasar Temanggung Beber Penyebabnya..

SEORANG konsumen tengah mencari minyak goreng kemasan di rak sebuah minimarket di Temanggung(.Foto: rizal ifan chanaris.)
SEORANG konsumen tengah mencari minyak goreng kemasan di rak sebuah minimarket di Temanggung(.Foto: rizal ifan chanaris.)

TEMANGGUNG,MAGELANGEKSPRES.COM – Teka-teki terkait alasan mengapa minyak goreng kelapa sawit kemasan sangat sulit dijumpai di pasaran perlahan mulai terkuak. Sejumlah pedagang eceran menduga bahwa pihak distributor sengaja menahan pasokan minyak goreng lantaran enggan merugi lebih banyak.

Seperti diungkapkan salah seorang pemilik kios di Pasar Rejo Amertani Temanggung, Khalifah (53). Menurutnya, kelangkaan minyak goreng kemasan 1 liter dan 2 liter disebabkan oleh minimnya pasokan barang ke pasaran. Imbasnya, pedagang dan konsumen merasa sama-sama dirugikan.

Ia menduga, para distributor kebutuhan pokok sengaja menahan stok minyak goreng kemasan ke pasaran karena tidak mau menderita kerugian lebih besar akibat keterlambatan penggantian biaya atau kompensasi atas kebijakan subsidi satu harga minyak goreng, yakni sebesar Rp 14.000 per liter.

“Ya wajar distributor tidak segera menyuplai minyak goreng. Katanya, lebih baik ditahan karena belum ada ganti kompensasi harga minyak goreng bersubsidi dari pemerintah. Sekarang begini, misal minyak di pasaran umum harga per liternya Rp 20.000 saja katakanlah, terus mereka diminta menjual Rp 14.000 an. Yang mengganti selisihnya siapa. Kan gak mau menanggung dulu distributornya,” ungkapnya, Kamis (17/2).

Ia menambahkan, saat ini banyak pemilik kios di pasar yang tidak memiliki stok minyak sama sekali. Hal ini disebabkan pihak distributor yang tidak segera mengirimkan pesanan di tengah tinggunya permintaan minyak goreng kemasan.

“Yang kemasan 1 liter sudah tidak ada. Kalau yang 2 liter saya hanya tinggal memiliki stok sedikit saja. Itupun harganya Rp 42.000 per kantong,” imbuhnya.
Siti Aminah (62), salah seorang pedagang pemilik kios sembako lain menambahkan, selain tidak adanya pasokan dari pihak distributor, kelangkaan minyak juga diperparah dengan kondisi panic buying di kalangan masyarakat.

Hal ini tergambar dari banyaknya antrean pesanan dari para pelanggannya meski pasokan belum juga datang, sekaligus pembelian dalam jumlah besar lantaran mereka takut tidak kebagian minyak bersubsidi. “Minyak goreng di kios saya masih kosong, tapi yang nitip antre membeli sudah banyak. Apalagi kalau sudah datang, cepat sekali habis. Banyak pelanggan (konsumen) saya panik dengan situasi ini,” urainya.

Di sisi lain, menyikapi kondisi tersebut, pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) dan UMKM Kabupaten Temanggung mengaku tidak bisa berbuat banyak.

Sutiyo, Staf Bidang Perdagangan Disperindagkop dan UMKM menyatakan pihaknya hanya mampu memberikan himbauan agar pedagang membantu mengendalikan harga dengan menjual sesuai anjuran pemerintah pusat, dalam hal ini Kemendag yakni Rp 14.000 per liter. “Kewenangan penuh masalah minyak goreng ada di tingkat Provinsi dan pusat.

Kami hanya menghimbau saja tanpa bisa intervensi berlebih apalagi di Temanggung tidak ada produsen maupun distributor,” pungkasnya. (riz)