Merinding!, Warga Wadas Purworejo Suarakan Tolak Tambang Nyaring Saat Tradisi Nyadran

MAKAN BERSAMA. Warga Desa Wadas saat makan bersama dalam kegiatan tradisi nyadran. (Foto. Ist)
MAKAN BERSAMA. Warga Desa Wadas saat makan bersama dalam kegiatan tradisi nyadran. (Foto. Ist)

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.COM – Suara penolakan terhadap rencana penambangan quary terus digelorakan oleh warga Desa Wadas Kecamatan Bener Purworejo. Berbagai kegiatan dilakukan sebagai media ekspresi sikap menolak upaya perusakan lingkungan yang ditimbulkan jika penambangan batu andesit untuk pembangunan Bendungan Bener dilakukan di Desa Wadas.

Salah satunya melalui kegiatan tradisi keagamaan warga desa setempak yakni Nyadran yang memang rutin dilakukan setiap bulan Sya’ban atau menjelang bulan Ramadan.

Salah satu warga, Siswanto (30) salah satu warga Dusun Randuparang saat dimintai konfirmasi, Kamis (17/3) mengungkapkan agenda nyadran dimulai dengan berziarah ke makam-makam leluhur dan para pendiri Desa Wadas di makam pidikan dan makam dukuh wetan.Dilanjutkan dengan berziarah di makam krajan di desa setempat.

“Hari ini warga di Wadas rutinan ziarah di makam, ada tiga makam. Kita bergilir, ziarah kubur, sudah budaya lama turun temurun, setelah melakukan itu,. Kita melakukan pengajian di masjid,” terangnya.

Budaya yang telah dijaga selama ratusan tahun ini dilakukan dengan bersih-bersih makam para orang tua atau leluhur, membuat dan membagikan makanan tradisional, serta berdoa bersama di sekitar area makam. Kegiatan ini dimulai pada pukul 11.00 WIB, Kemudian makan siang bersama (kembulan). Dilanjutkan sholat dzuhur berjamaah di Masjid Nurul Huda, Pengajian, dan Hiburan (Penutup).

“Itu yang ikut hampir seribu warga, anak-anak sampai orang tua, semua warga. Jadi kalau tujuan mai masuk puasa mendoakan para leluhur kita,” kata Siswanto.

Tema pada Nyadran tahun ini yaitu Sadumuk Batuk, Sanyari Bumi, Ditohi Tekan Pati yang berarti bahwa tanah mempunyai makna yang sangat sakral, seperti nyawa bagi seseorang. Begitu berartinya tanah bagi warga Wadas, sehingga para warga akan terus mempertahankan tanah. Selain itu, warga akan tetap konsisten untuk merawat alam Desa Wadas demi masa depan anak cucu.

“Ini budaya rutin yang dilakukan warga, ketika tambang terjadi, budaya juga luntur, lahan yang menjadi rencana tambang tempat dimana petani mencari rejeki, seandainya terjadi (ditambang) warga tidak lunya pekerjaan lagi, otomartis warga nanti akan merantau karena tidak ada mata pencaharian,” kata Siswanto.

Dengan hilangnya mata pencaharian, imbuhnya, budaya juga akan turut hilang. Saat warga tidak bisa lagi mencari nafkah di Wadas kemungkinan besar tidak akan ada kehidupan lagi di Wadas.

“Jadi ya budaya juga hilang, kita berharap budaya ini juga terus ada, ini jadi ajang silaturahmi warga, selamanya ingin seperti itu (mempertahankan budaya),” terangnya.

Disampaikan juga bahwa sempat terjadi perdebatan antara warga dengan pemerintah soal mata pencaharian. Pemerintah menjanjikan akan mempekerjakan warga, tetapi menurutnya yang akan dipekerjakan pasti orang muda.

“Jadi orang tua tidak dapat bekerja lagi, pemerintah juga berjanji tanah akan dikembalikan seperti semula setelah ditambang, sehingga bisa bertani lagi, tapi kan pengembaliannya juga lama, membesarkan pohon durian misalnya, bisa bertahun-tahun, sepertinya mustahil bisa dikembalikan,” ungkapnya.

Ditambahkan, bahwa keinginan warga hingga saat ini tidak berubah yakni menolak penambangan di Wadas serta pencabutan Ijin Penetapan Lokasi (IPL) tambang andesit Wadas.

“Harapan warga itu dari dulu sampai sekarang hanya menginginkan cabut IPL, kita tetap menolak tambang, karena sejak awal prosesnya kita sudah menolak, kami tidak ingin ada kerusakan di wadas ingin kelestarian selamanya, apapun yang kami suarakan diharapkan didengar oleh pemerintah,” pungkasnya. (luk)