Merawat Semangat Membaca Hingga Usia Senja

0
221
Rajin Membaca
MEMBACA. Kakek Parwoto asyik membaca Koran di sebuah warung sederhana pinggir Jalan Sarwo Edhie Wibowo Purworejo, 

Parwoto, Kakek 13 Cucu Selalu Sehat dan Berdaya Ingat Kuat

Rutinitas membaca tidak hanya memperkaya wawasan. Dengan gemar membaca, seseorang juga dapat terhindar dari berbagai gangguan kesehatan. Hal itu telah dibuktikan oleh Parwoto (79), pensiunan Dinas Perikanan Kabupaten Purworejo. Meski berusia senja, kakek yang telah memiliki 13 orang cucu ini tak pernah lepas dari aktivitas membaca dan mengaku masih memiliki daya ingat yang kuat.

EKO SUTOPO, Purworejo

Sejumlah pengunjung tampak santai menikmati minuman serta camilan di sebuah warung sederhana milik Bambang Subagyo (71) yang terletak di Jalan Sarwo Edhie Wibowo, Pangen Jurutengah, Kecamatan/Kabupaten Purworejo Jawa Tengah, Jumat (13/9) siang. Sebagian mereka asyik berbincang sambil sesekali melihat layar handphone yang dipegang. Sementara di bagian depan warung yang berfungsi sebagai lapak koran, seorang kakek tak berkaca mata sibuk membolak-balikan halaman koran. Duduk tenang di bangku bambu, lembar demi lembar dicermati dan dibaca. Kadang dahinya mengernyit tampak serius, tapi sesekali ia tersenyum pertanda terhibur.

Ya, nama kakek tersebut adalah Parwoto.

“Saya memang hobi membaca apa saja sejak muda, terutama sejarah dan pengetahuan umum. Kalau sekarang membaca yang ringan-ringan, seperti koran ,” kata Parwoto saat berbincang dengan Purworejo Ekspres.

Kakek kelahiran 10 Juli 1940 ini merupakan warga RT 02 RW 02 Kelurahan Kledung Kradenan Kecamatan Banyuurip. Suami dari Sutarsih (75) yang dikaruniai 5 anak, 13 cucu, dan 2  buyut ini juga hobi bersepeda. Hampir setiap pagi atau sore, ia mengayuh sepeda onthelnya dan mampir di warung tersebut untuk membeli atau sekadar membaca koran. Meski jarak yang ditempuh tidak begitu jauh, sekitar 7-8 kilometer pulang pergi, rutinitas itu menjadikan tubuhnya bugar.

Bahkan, selama sekitar 20 tahun terakhir ini Parwoto jarang mengalami sakit yang mengkhawatirkan. Jika harus mengunjungi dokter atau Puskesmas, hanya untuk periksa tekanan darah. Itu pun diakui selalu normal.

“Alhamdulillah jarang sakit. Cuma kemarin ini kaki agak bengkak, tapi sekarang sudah sembuh. Saya membaca juga masih normal, tidak pakai kaca mata,” lanjutnya.

Pentingnya membaca telah disadari Parwoto sejak muda. Motivasi untuk terus membaca menguat ketika ia mendapati sebuah referensi hasil penelitian bahwa membaca dapat mencegah stres dan pikun.

“Selain menambah wawasan dan pengetahuan, dengan membaca kita juga bisa berekreasi sehingga terhindar dari stres dan pikun. Saya pernah baca itu hasil penelitian Sains Techno,” sebutnya.

Semangatnya merawat hobi membaca membuat Parwoto serasa tetap muda. Banyak hal yang masih mudah ia ingat di usianya yang telah senja. Bahkan, pesan-pesan nenek atau kakek yang disampaikan saat ia kecil sekali pun banyak yang tidak lupa.

“Misalnya saya pernah bilang apa ke anak saya beberapa puluh tahun lalu, banyak yang masih ingat. Mbah saya pernah memberi wejangan saat kelas 5 SD, saya juga masih ingat,” jelasnya.

“Kowe sesuk bakal menangi kereta bisa mabur tanpa kuda (Kamu besok akan menjumpai kereta bisa terbang tanpa kuda, red). Pesan dari mbah Itu terbukti, ternyata pesawat,” imbuhnya.

Tajamnya ingatan Parwoto berkat gemar membaca kerap menjadi kekaguman keluarganya. Bahkan, 10 adiknya pun mengaku tidak seperti Parwoto. Banyak di antaranya yang kelihatan lebih tua darinya dan tidak memiliki ingatan sekuat Parwoto.

“Karena itu, saya sering menyarankan adik-adik untuk rajin membaca dan olahraga. Sama cucu-cucu juga saya selalu memberi motivasi,” ungkap Parwoto.

Parwoto lahir dari orang tua yang cukup sadar literasi. Budaya itu pun terbawa dan tetap  mempertahankannya. Tidak hanya mengoleksi bacaan, Parwoto juga rajin mengikuti siaran berita lewatradio serta televisi.

“Pak Presiden Jokowi kan juga sering memerintahkan masyarakat agar gemar membaca dan mendengarkan radio. Jauh sebelum itu saya sudah selalu melakukan, khususnya untuk warta berita,” sambungnya sambil menyebut rubrik Sains Tekno setiap Sabtu sore juga menjadi siaran idola.

Parwoto mengaku bangga memiliki hobi membaca. Meski tidak menjadikannya orang besar, setidaknya telah terbukti banyak tokoh yang tumbuh menjadi besar karena gemar membaca. Sebut saja Presiden Ir Soekarno, Abdurrahman Wahid atau Gusdur, dan BJ Habibie. Beberapa tokoh itu turut mengilhami Parwoto untuk rajin membaca.

“Saya kan dulu sopir, senang sekali dulu bisa salaman langsung dengan Pak Gusdur waktu mengantar pejabat dari sini di Jakarta,” bebernya.

Perkembangan teknologi yang begitu pesat ternyata juga tidak membuat Parwoto ketinggalan. Ia tak alergi dengan handphone dan internet. Baginya, kemudahan akses teknologi saat ini justru membuat lebih mudah mengakses informasi.

“Tapi HP ini cuma saya pakai untuk  komunikasi saat penting, dengarkan radio atau buka-buka berita. Saya tidak ingin tersita waktu gara-gara HP,” pungkasnya.

Tajamnya ingatan serta energiknya Parwoto juga kerap membuat kagum orang-orang yang berkunjung di warung. Bambang Subagyo bersama istrinya, Widaningsih, menjadi saksi bahwa Parwoto selalu tak ingin ketinggalan informasi.

“Setiap hari Senin sampai Jumat, habis bersepeda, bisa dipastikan mampir kesini untuk beli atau baca koran. Kalau Sabtu dan Minggu tidak tentu. Pak Woto ini memang  luar biasa,” ujar Widaningsih. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here