Menyedihkan! 27 Ribu Anak di Wonosobo Tidak Sekolah

ATS. Rapat koordinasi lintas sektor membahas penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS), yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA).
ATS. Rapat koordinasi lintas sektor membahas penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS), yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA).

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM – Kondisi sektor pendidikan di Kabupaten Wonosobo membutuhkan perhatian dan penanganan serius. Diketahui ada sebanyak 27.181 anak dalam rentang usia 7-18 tahun di 15 kecamatan masuk kategori belum pernah sekolah dan tidak sekolah lagi.

“Program Mayo Sekolah, atau Ayo Sekolah ini kita gagas dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, di antaranya menangani Anak Tidak Sekolah untuk kembali ke bangku pendidikan di sekolah,” ungkap Kepala Bidang Pemerintahan Sosial dan Budaya Bappeda, Amin Purnadi, dalam rakor penangan anak tidak sekolah di aula Bappeda Wonosobo, kemarin.

Menurutnya, dari hasil rapat koordinasi lintas sektor membahas penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS), yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Wonosobo dua hari terakhir. Diketahui ada sebanyak 27.181 anak dalam rentang usia 7-18 tahun di 15 kecamatan masuk kategori belum pernah sekolah dan tidak sekolah lagi.

“Kami  mengajak sejumlah pihak terkait untuk menekan angka ATS tersebut, dengan mengangkat gagasan berupa program Mayo Sekolah,” katanya.

Sejumlah pihak yang diajak dalam forum rakor tersebut, diantaranya Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Dinas Sosial Permasdes, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, serta Dinas PPKBPPA dan Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda. Bersama perangkat-perangkat daerah tersebut, Amin mengaku mengajak serta mereka, agar turut mendukung program unggulan Wonosobo Pintar yang telah menjadi amanat dalam visi dan misi Pemerintah Kabupaten .

“Forum rakor ini adalah dalam rangka kita menyamakan persepsi perihal bagaimana upaya kedepan untuk menangani problem ATS ini secara bersama-sama, sehingga pelaksanaannya tidak tumpang tindih serta bisa menyentuh sasaran yang tepat,” urainya.

Pascarakor akan segera menindaklanjuti dengan pemetaan data terpadu, sebelum kemudian berlanjut pada tahapan rencana aksi daerah.

Artikel Menarik Lainnya :  Data Bermasalah, 42 Ribu Peserta Bebas Iuran BPJS Wonosobo Dinonaktifkan

Sementara itu, Kepala Sub Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, Sri Fatonah WI menyebut,  kondisi geografis pegunungan dengan kontur relatif tidak rata, menjadi salah satu faktor anak sulit mengakses pendidikan.Kemudian juga masih ada desa dan dusun terpencil di Kabupaten Wonosobo dengan tingkat kesulitan beragam untuk mencapai sekolah terdekat, baik di jenjang SD, SMP sampai SMA.

“Dari data peta layanan transportasi dan sebaran sekolah SMP, tidak semua sekolah berada di jalur tersebut sehingga jarak antara rumah dengan sekolah cukup jauh ketika harus ditempuh dengan berjalan kaki,” bebernya.

Jarak yang jauh tersebut, menurutnya juga menambah beban bagi orang tua untuk menyediakan biaya transport tambahan, baik ketika harus mengunakan ojek ataupun terpaksa mengijinkan anaknya mengendarai kendaraan roda 2 meski secara usia belum diperkenankan.

Tingginya ATS tersebut, juga berujung pada Rendahnya Rata-Rata Lama Sekolah (RTLS) di Kabupaten Wonosobo. Berdasar pada data tahun 2020, RTLS Kabupaten Wonosobo masih berada pada angka 6,81 tahun, jauh di bawah RTLS Provinsi Jawa Tengah yang telah berada pada angka 7,69 pada tahun yang sama.

“Di kawasan regional atau se-Eks Karesidenan Kedu Kabupaten Wonosobo juga berada di posisi paling bawah, sehingga memang diperlukan keseriusan seluruh pihak agar kondisi tersebut bisa diperbaiki,” pungkasnya. (gus)