Menjelang Panen, Petani Tembakau Melakukan Tradisi Ini, Hasilnya?

RUWAT RIGEN. Petani tembakau di Kecamatan Kledung menggelar tradisi Ruat Rigen di rest area Kledung, Minggu (7/8). (foto:setyo wuwuh)
RUWAT RIGEN. Petani tembakau di Kecamatan Kledung menggelar tradisi Ruat Rigen di rest area Kledung, Minggu (7/8). (foto:setyo wuwuh)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Pandemi Covid-19 yang terjadi delama dua tahun terakhir, membelenggu semua kegiatan tradisi masyarakat. Tidak terkecuali bagi petani tembakau di lembah Sindoro Sumbing di Kecamatan Kledung. Namun seiring dengan membaiknya kondisi, saat ini petani tembakau di Kecamatan Kledung kembali menggelar tradisi Ruat Rigen di rest area kecamatan setempat, Minggu (7/8).

Tradisi ini menjadi tradisi yang selalu dilakukan oleh petani tembakau menjelang panen raya tembakau, selain tradisi wiwit tembakau (petik pertama tembakau) dan sejumlah tradisi lainnya yang sangat lekat dengan petani tembakau.

Tradisi seperti ini selalu digelar dengan iringan doa bersama, dengan harapan saat panen raya tiba, petani bisa mendapatkan keselamatan dan limpahan rezeki dari hasil panen tembakau.

“Semoga saja panen raya tembakau tahun ini bisa memberikan rezeki yang melimpah untuk semua petani dan masyarakat Temanggung,” harap Budiyono salah satu petani tembakau.

Ia menuturkan, selama dua tahun terakhir ini petani tembakau selalu dirundung kerugian, karena harga tembakau yang selalu jatuh saat panen raya. Apalagi dibarengi dengan pandemi Covid-19.

“Harapan kami sebagai petani tahun ini harga tembakau bisa terjual diatas Rp75.000 per kilogram, mulai dari awal panen hingga akhir panen harganya bisa terus membaik, syukur-syukur bisa di atas Rp100 ribu per kilogram,” harapnya.

Sementara itu Ketua Panitia Ruwat Rigen Basori menjelaskan, tradisi ruwat rigen ini sudah beberapa kali digelar, tradisi ini sempat dihentikan arena pandemi Covid-19 lalu.

“Saat pandemi sama sekali tidak bisa dilakukan, karena kegiatan ini pasti menimbulkan kerumunan. Alhamdulilah saat ini kondisinya sudah membaik dan tradisi ini kembali bisa kami gelar,” tuturnya.

Dijelaskan, ruwat merupakan tradisi masyarakat sedangkan rigen digunakan sebagai alat untuk menjemur olahan tembakau, kemudian dibersihkan dan dicuci dengan air dari Sendang Kamulyan sumber air yang berada di Kecamatan Kledung.

Ia merincikan, ada 13 desa di Kecamatan Kledung yang mengikuti tradisi ruwat rigen dan berdoa bersama ini, meminta kepada sang pencipta untuk kelancaran di masa panen tembakau tahun ini.

“Dengan ruwatan ini petani bisa mendapatkan keselamatan saat mengolah tembakau, dan harga tembakaupun juga bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,”harapnya.

Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq mengatakan sudah menjadi tradisi oleh sebagian masyarakat musim tembakau dilaksanakan dengan tasyakuran atau wiwit tembakau.

“Masyarakat Temanggung masih memegang adat istiadat peninggalan nenek moyang, segalanya menggunakan selamatan atau wiwit dari mulai tanam hingga panen selesai menggunakan selametan,” kata Bupati.

Khadziq menyebut petani kini sudah berada di masa akan panen, setelah sekitar 3 bulan penantian petani merawat, memupuk tanaman tembakau sebentar lagi petani akan sudah memetik hasil.

“Sebagai wujud pengharapan masyarakat agar musim tembakau tahun ini dapat berjalan dengan lancar, dapat berhasil dengan bagus dan harganya juga bagus,” jelas Bupati. (set)