Mengisi Kegiatan Selama Ramadan, Para Lansia Ikuti Simaan Alquran di Masjid Agung

SIMAAN. Jamaah simaan Alquran di Masjid Agung Kota Magelang didominasi kalangan lansia asal kota dan daerah sekitarnya seperti Bandongan, Windusari, dan Secang Kabupaten Magelang.(foto : wiwid arif/magelang ekspres)
SIMAAN. Jamaah simaan Alquran di Masjid Agung Kota Magelang didominasi kalangan lansia asal kota dan daerah sekitarnya seperti Bandongan, Windusari, dan Secang Kabupaten Magelang.(foto : wiwid arif/magelang ekspres)

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM– Selepas waktu dhuhur di bulan Ramadan, Masjid Agung Kauman Kota Magelang di serambinya selalu dipenuhi puluhan jamaah. Mereka yang rata-rata adalah kalangan lanjut usia (lansia) itu berjejer rapi sembari membawa Alquran. Mereka tengah menjalani simaan Alquran sepanjang satu bulan penuh selama Ramadan 1443 H/2022.

Simaan atau “semaan” Alquran sendiri sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 1950 silam. Tekniknya masih sama sampai sekarang, yaitu dengan membaca tiga juz tiap hari, mulai Ramadan hari pertama sampai hari ke-20, sehingga terjadi dua kali khatam.

Takmir Masjid Agung Kauman Kota Magelang, Puji Hartono menjelaskan, simaan Alquran ada sejak dipimpin oleh KH Nawawi Abdul Azis pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, pada tahun 1956.

KH Nawawi Abdul Azis memimpin tradisi simakan di Masjid Agung Kauman Kota Magelang hingga tahun 2003 silam. Kepemimpinannya kemudian dilanjutkan oleh salah satu putranya yakni KH Muslim Nawawi dari tahun 2003 hingga 2014 lalu.

”Sejak tahun 2014 hingga sekarang, simakan tersebut dipimpin oleh salah satu cucu dari KH Nawawi Abdul Azis, yakni H Adib,” kata Puji yang juga menjabat Kabag Pembangunan Setda Kota Magelang ini.

Menurutnya, peserta simaan tersebut didominasi oleh kaum pria lansia yang berasal dari sekitar Kota Magelang, dan kecamatan lain di wilayah Kabupaten Magelang seperti Bandongan, Secang, Windusari, dan lainnya.

Asnawawi (56), salah seorang pelaku semaan Alquran mengaku mengikuti tradisi itu sejak 1978. Kala itu ia hanya ikut-ikutan orangtuanya yang berasal dari Desa Trasan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang.

”Setiap bulan Ramadan, sejak tanggal satu hingga tanggal 23 puasa saya selalu mengikuti simakan di Masjid Agung Kauman Kota Magelang ini,” katanya.

Menurutnya, mengikuti simaan Alquran tersebut sebagai salah satu upaya menghindari kesalahan pembacaan. Di sisi lain, dengan menyimak akan menambah kepekaan terhadap pembacaan ayat-ayat suci Alquran.

”Kemudian dari segi waktu, lebih efektif. Karena membaca Alquran sehari tiga juz kalau sendiri tentu berat. Tapi kalau bersama-sama dan menyimak tidak terasa,” ucapnya.

Selain itu, dengan membaca Alquran di bulan suci ia semakin mendapatkan ketenangan hati. ”Rasanya tenang bisa ikut semaan dari puasa hari pertama sampai puasa hari ke-20,” katanya. (wid)