Menengok Tradisi Kenongan di Deroduwur , Rayakan Idul Adha dengan Santap Bersama

TENONG. Tradisi makan bersama Kenongan ditandai dengan warga yang membawa tenong ke musala atau masjid usai melaksanakan salat ied.
TENONG. Tradisi makan bersama Kenongan ditandai dengan warga yang membawa tenong ke musala atau masjid usai melaksanakan salat ied.

MAGELANGEKSPRES.COM,Meskipun di banyak daerah tradisi di hari raya kurban atau Idul Adha banyak ditandai dengan pemotongan hewan kurban, namun tiap daerah punya kekhasan masing-masing. Salah satunya bisa ditemui di desa yang dikenal sebagai tempat makam para ulama, Deroduwur, Kecamatan Mojotengah.

DI hari H Idul Adha, usai turun salat id di masjid, para warga menyiapkan tenong atau tempat makanan dan jajanan tradisional dari anyaman bambu yang berbentuk bulat.

Para bapak maupun pemuda, remaja, dan anak-anak berkumpul di masjid maupun musala terdekat dengan membawa tenong yang disiapkan keluarganya. Agenda itu diungkapkan salah satu warga, Yasin juga dilakukan di beberapa peringatan hari besar keagamaan lain maupun saat merdi desa.

“Seperti bulan bulan tertentu yang lainnya, kegiatan ini rutin dilaksanakan kembali. Kalau saat ini tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah atau Hari Raya idul Adha yang disebut warga di sini sebagai sasi atau bulan Besar dan selalu diadakan kembali Tasyakuran yang disebut dengan istilah Kenongan. Seperti hari raya iedul Fitri, kenongan dilaksanakan setelah dilaksanakannya Sholat ied dan sebelum pemotongan hewan kurban,” ungkapnya kemarin (31/7).

Diungkapkan Yasin, prosesi adat kenongan memiliki keunikan tersendiri yakni selain wadah makanan yang berupa tenong, diyakini ada beberapa ajaran kehidupan di agenda itu. Salah satunya ialah mengajarkan warga untuk saling berbagi, yaitu dengan berbagi makanan yang dibawa pada sekelilingnya.

“Agenda biasanya diisi tausiyah sebentar dan kemudian dipimpin doa. Di kenongan ini, uniknya cara makannya pun tidak seperti makan pada biasanya, kita dianjurkan untuk saling berbagi dahulu dengan orang-orang lain disebelah kita baru kemudian mulai makan. Jadi semuanya bisa merasakan makanan yang dibawa warga lain,” imbuhnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Selangkah Lagi, Dieng Sebagai Warisan Geologi Bakal Terwujud

Selain kenongan, Deroduwur memiliki banyak kekhasan budaya yang banyak terhubung ke agenda keagamaan. Bahkan beberapa kesenian yang berkembang di Deroduwur juga termasuk Gambus yang diturunkan dari budaya Arab. Selain juga sepak bola api dan tarian api yang biasanya dilaksanakan di tahun baru islam atau saat ada peringatan besar.

Di momentum hari jadi dan peringatan hari besar lainnya, makam ulama Deroduwur juga tak pernah sepi dari peziarah. Mengingat para ulama besar dan keluarganya juga dimakamkan di sana. (win)