Mencintai Lingkungan Melalui Program Sekolah Adiwiyata

KAMPANYE. Siswa-siswi SD Negeri Ringananom 1 Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang melakukan kampanye untuk mencintai lingkungan.

MAGELANGEKSPRES.TEMPURAN- SD Negeri Ringananom 1 Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang menjadi salah satu sekolah telah sukses dalam melaksanakan program Sekolah Adiwiyata dari tingkat Kabupaten Magelang pada tahun 2018, kemudian berlanjut tingkat Provinsi Jawa Tangan tahun 2019 dan akan maju untuk tingkat Nasional yang seharusnya pada tahun 2020 tertunda karena pandemi Covid 19. “Sebuah jenjang penghargaan dari pemerintah melalui dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang,  Provinsi Jawa Tengah untuk sebuah program  gerakan PBLHS kembali dilaksanakan di tahun 2021 ini,” kata Toifur Yusuf, guru SDN Ringinanom 1 di sela-sela aktivitasnya

Secara geografis SDN Ringinanom 1 terletak di Kecamatan Tempuran tepatnya di samping pasar tradisional Kiringan, berada di Jalan Kyai Maksum Km 4 Tempuran, Kabupten Magelang. Sekolah yang berdiri sejak puluhan tahun silam dengan murid sekolah dasar terbanyak se-Kecamatan Tempuran, yakni mencapai 340 siswa, dengan 12 rombel.

SDN Ringinanom 1 sebagai tempat belajar sehingga telah menjadi rumah yang kedua bagi seluruh warga sekolah. Dengan mencintai lingkungannya diharapkan seperti mencintai rumahnya sendiri. Hal tersebut sesuai dengan slogan yang selalu disampaikan oleh kepala sekolah tersebut.

Menurutnya, belajar mencintai Lingkungan adalah sesuatu yang mesti ditanamkan sejak dini kepada para siswa sehingga diharapkan karakter mereka muncul karena pembiasaan yang terus dilakukan untuk mencintai lingkungan, tempat mereka belajar. Program sekolah adiwiyata menjadi salah satu stimulus yang dapat memacu seluruh warga sekolah terus berbenah dan berinovasi untuk lingkungan hidup sekolah.

Toifur menceritakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan hidup terus dilakukan seperti,  kampanye siswa untuk mencintai lingkungan, lomba penghijauan antar kelas, lomba kebersihan kelas, dan penanganan sampah dengan cara 3R (Reduce, Reuse dan Recikele) juga membuat MoU dengan berbagai pihak. Lahan sekolah yang terbatas bukan menjadi alasan untuk berhenti berbuat sesuatu. “Pembelajaran untuk peserta didik adalah motivasi pertama sebagai skala prioritas, dan keterlibatan wali murid menyokong secara moril maupun materiil juga tidak bisa dikesampingkan,” ungkapnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Candi Borobudur Segera Dibuka, Ini Tanggapan Kapolres Magelang

Lahan sekolah tambahan dari hasil kontribusi infak siswa-siswi sekolah tersebut menjadi salah satu bukti kesungguhan dukungan secara meteriil dari orang tua  atau wali murid. “Dan sekarang dijadikan sebagai kebun sekolah yang ditanami berbagai tanaman obat-obatan yang menjadi brand Adiwiyata SDN Ringinanom 1 sebagai sekolah “FARMAKA”, “Imbuh Toifur”.

Program sekolah Adiwiyata SDN Ringinanom 1 tergabung dalam kurikulum sekolah yang artinya mencakup dalam delapan standar pendidikan, hal ini berarti tidak sebatas pada bukti fisik yang harus ada, namun dalam PBM/KBM di dalam kelas juga harus menyisipkan pesan-pesan pada siswa untuk tetap mencintai lingkungannya.

Visi misi sekolah yang mencanangkan untuk peduli dan berbudaya lingkungan menjadi acuan pertama seluruh warga sekolah untuk terus mencintai lingkungan sekolah. Hemat energi, hemat air adalah juga bagian dari itu. Pemanfaatan air limbah air wudhu untuk kolam ikan, dan menguras air kolam untuk menyirami tanaman serta menyalurkan buangan limbah air cuci tangan pada taman depan kelas juga salah satu contoh pembelajaran hemat air, pembuatan lubang biopori di halaman sekolah untuk tabungan pupuk organik juga pemanfaatan sumber air dari air hujan, pembuatan sumur resapan adalah contoh pembelajaran pemanfaatan air secara maksimal.

Sebagaimana diketahui, Adiwiyata secara Internsional disebut pula dengan Green School. Yakni salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup dalam mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

Green School lebih bermakna pada pembentukan sikap anak didik dan warga sekolah terhadap lingkungan, yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Hal ini diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, baik di sekolah, rumah atau lingkungan tempat tinggal, termasuk didalamnya terdapat program “Greening The Curriculum” (Kurukulum Hijau). Artinya kurikulum yang memperhatikan aspek-aspek lingkungan dalam bahasanya serta mengintegrasikan materi lingkungan ke dalam pembelajaran sesuai dengan topik bahasannya.

Artikel Menarik Lainnya :  Siap-siap! Akan Ada Kapal Raksasa di Grabag Magelang

Manfaat dan tujuan program tersebut adalah dengan menciptakan sekolah yang nyaman, aman dan harmonis, khususnya untuk kebutuhan belajar peserta didik. Secara otodidak peserta didik perlahan menjadi generasi yang peduli dan berbudaya lingkungan. (rls/adv)