Melestarikan Ritual Adat Tedhak Siten bagi Anak Berusia 6-9 Bulan, Seperti Apa?

Melestarikan Ritual Adat Tedhak Siten bagi Anak Berusia 6-9 Bulan, Seperti Apa?
Salah seorang anak tengah menjalani prosesi ritual adat bernama Tedhak Siten di Desa Tanjungsari, Kecamatan Tlogomulyo Temanggung Minggu (13/3). (Foto: rizal ifan chanaris)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM– Tak ada satupun orang tua di dunia ini yang tak ingin anak kesayangan mereka sukses dan menjadi manusia seutuhnya sesuai kodrat masing-masing. Seperti halnya bagi masyarakat di tanah Jawa. Ada sebuah ritual atau prosesi adat yang hingga kini masih lestasi. Namanya “Tedhak Siten” atau masyarakat Kabupaten Temanggung biasa menyebutnya dengan istilah “Dun-Dunan”.
Prosesi adat yang sudah menjadi tradisi turun-temurun itu sampai saat ini terus dilestarikan sebagai sebuah simbol harapan para orang tua agar anaknya yang masih bayi, kelak di masa depan dapat menjadi pribadi sukses dan mampu menggapai cita-cita masing-masing.
Salah seorang pemangku tradisi asal Desa Tanjungsari, Kecamatan Tlogomulyo, Zaidah (58) mengungkapkan, Tedhak Siten sendiri secara harfiah merupakan sebuah prosesi menginjakkan kaki ke tanah untuk pertama kalinya pada bayi dengan harapan agar mereka tidak kaget jika kelak sudah mampu berjalan sendiri.
“Kan dari lahir bayi masih belum bisa berjalan. Nah, saat menjelang usia mereka memasuki fase berjalan sendiri, maka tiap orang tua di masyarakat Jawa menggelar ritual Tedhak Siten atau di sini istilahnya Dun-Dunan,” jelasnya, Minggu (13/3).
Lebih jauh dijelaskan, terdapat sebuah perbedaan antara bayi laki-laki dan perempuan saat menjalani tradisi ini. Untuk bayi perempuan biasanya mengikuti Tedhak Siten pada usia 6 bulan, sedangkan bayi laki-laki pada usia 7 atau 9 bulan. Ini tak lain merupakan simbol penyelarasan antara ganjil dan genap.
“Masyarakat Jawa kan memiliki sejarah tradisi yang kuat. Mereka menggunakan simbol-simbol sebagai perlambang akan sebuah harapan tertentu,” imbuhnya.
Zaidah mengungkapkan, terdapat beberapa fase atau tahapan dalam ritual tersebut. Pertama, sang bayi dengan bantuan si ibu diminta menginjakkan kakinya di atas Jadah Tujuh Rupa atau makanan tradisional olahan yang terbuat dari bahan beras ketan beraneka warna.
Kemudian memanjat sebuah tangga yang terbuat dari batang tebu. Dilanjutkan sang bayi dimasukkan dalam sebuah kurungan besar untuk memilih beragam benda yang ada di dalamnya. Mulai pulpen, beras, mainan, buku Iqro’, uang hingga aneka jajanan pasar.
Terakhir, orang tua berikut keluarga menaburkan kepala sang bayi dengan menggunakan biji-biji beras. Prosesi ditutup dengan acara doa bersama oleh seluruh keluarga dan orang-orang lain yang datang, dengan dipimpin oleh pemangku tradisi.
Tujuannya adalah agar kelak sang bayi saat dewasa dapat menjadi manusia utuh sesuai kodratnya, berguna bagi masyarakat, orang tua, nusa bangsa, dan mampu menggapai cita-cita setinggi langit.
“Ada beberapa peralatan yang digunakan sebagai sarana prosesi Tedhak Siten. Seperti tangga dari tebu yang bermakna sebagai simbol sang bayi dalam upaya menggapai cita-cita setinggi langit secara manis. Lalu ada juga kurungan sebagai simbol cita-cita yang beragam dan luas, kemudian jajanan pasar adalah simbol agar makanan yang diserap bayi mengandung gizi yang tinggi. Lalu beragam peralatan seperti uang, beras, pulpen, hingga Iqro’ agar sang bayi mampu menyeimbangkan antara materi dunia lewat berbagai profesi kelak, dengan ilmu agama sebagai modal menjalani kehidupan,” pungkasnya. (riz)