Masjid Langgar Agung Pangeran Diponegoro Terapkan Physical Distancing

IBADAH. Masjid Langgar Agung Pangeran Diponegoro ditengah pandemi Covid 19 tetap melakukan aktifitas ibadah Ramadhan dengan menerapkan physical distancing.
IBADAH. Masjid Langgar Agung Pangeran Diponegoro ditengah pandemi Covid 19 tetap melakukan aktifitas ibadah Ramadhan dengan menerapkan physical distancing.

MAGELANGEKSPRES.COM,SALAMAN – Bulan Ramadan kali ini masih dit engah pandemi covid-19. Hal tersebut membuat aktifitas ibadah di Masjid Langgar Agung Pangeran Diponegoro turut menyesuaikan anjuran pemerintah. Yaitu, menerapkan physical distancing, guna mencegah penularan virus Corona.

“Aktivitas ibadah tetap dilaksanakan, seperti salat wajib, salat jumat dan terawih, namun barisan shaf diberi jarak, dan diimbau pakai sajadah sendiri. Jika pada situasi normal pada bulan Ramadan ada kegiatan pengajian pagi dan tadarus malam. Ini ditiadakan saat pandemi Covid 19 ini,” ucap Takmir Masjid Langgar Agung Pangeran Diponegoro, Ma’mun Hidayat, Rabu (13/5).

Masjid Langgar Agung Pangeran Diponegoro, berada di Dusun Kamal Desa Menoreh, Kecamatan Salaman di kompleks MA/MTs Diponegoro. Adapun sisi sejarah bangunan tersebut pernah sebagai tempat Pangeran Diponegoro melakukan aktifitas ibadah, saat terjadi Perang Diponegoro melawan Belanda.

“Tepatnya di ruang pengimaman masjid ini, dulu Pangeran Diponegoro pernah Mujahadah di tempat itu, di sebelahnya ada pohon Belimbing untuk mengikat Kuda Beliau. Petilasan tersebut oleh masyarakat kemudian dibangun langgar atau musala. Kemudian seiring waktu semakin disesuaikan hingga menjadi bangunan masjid, meskipun masih memakai nama langgar,” terang Ma’mun Hidayat.

Informasi sejarah lainnya, dilokasi sekitar Masjid dulunya merupakan hutan belantara. Saat itu Pangeran Diponegoro akan berangkat berunding dengan pihak Belanda di Magelang.

Ketika pasukan Diponegoro hendak melaksanakan salat, dibuatlah tatanan batu untuk alas salat, atau Langgar. Hal itu menjadi awal mula bangunan tersebut berdiri dan menjadi bagian dari sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro.

Dalam perkembangannya, sekitar tahun 1960-an, atas prakarsa Jenderal Sarwo Edi Wibowo dimulailah pembuatan pondasi masjid, dengan letak pengimaman berada di atas tatanan batu alas salat itu. Tahun 1972 pembangunan masjid selesai dilakukan dan kemudian disematkan nama Masjid Langgar Agung.

“Selain itu juga ada peninggalan Pangeran Diponegoro berupa Alquran tulis tangan, Keris dan Kitab,” papar Ma’mun Hidayat.(cha)