Mahasiswa harus Tahu Ini! Penyebaran Radikalisme Mudah Masuk Lewat Medsos

SERIUS. Sejumlah peserta serius mengikuti pelatihan aplikasi media sosial sebagai strategi kehumasan di era revolusi 4.0 bagi warga nahdliyin di aula MWC NU Kledung, kemarin. (Foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)
SERIUS. Sejumlah peserta serius mengikuti pelatihan aplikasi media sosial sebagai strategi kehumasan di era revolusi 4.0 bagi warga nahdliyin di aula MWC NU Kledung, kemarin. (Foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Penyebaran paham radikalisme di kampus dan tempat-tempat lainnya, selain memanfaatkan organisasi dan unit kegiatan mahasiswa, juga memanfaatkan media sosial (medsos) sebagai pintu masuk.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik Temanggung Djoko Prasetyono saat memberikan materi pada pelatihan aplikasi media sosial sebagai strategi kehumasan di era revolusi 4.0 bagi warga nahdliyin di aula MWC NU Kledung, kemarin.

Ia mengatakan, aktor penyebab radikalisme kelompok radikal yang terus berupaya menyebarkan paham dan ideologinya ke berbagai elemen masyarakat.

“Kelompok radikal mempunyai metode yang sistematis dalam menyebarkan ajaran dan merekrut anggotanya,” katanya, Rabu (1/6).

Ia mengatakan, paham radikalisme masih menjadi ancaman nyata bagi bangsa Indonesia. Paham radikalisme terindikasi kuat telah masuk ke berbagai lini kehidupan masyarakat, termasuk dunia pendidikan.

Saat ini lanjutnya, jaringan kelompok radikal di Indonesia termonitor masih terus melakukan konsolidasi dan manuver untuk melaksanakan agenda perjuangannya.

Oleh karena itu katanya, sebagai generasi penerus bangsa ini, generasi muda yang berada di bawah Nahdliyin harus semakin melek media sosial, sehingga tidak salah dalam memanfaatkannya.

Ketua panitia pelatihan aplikasi media sosial sebagai strategi kehumasan di era revolusi 4.0 bagi warga nahdliyin Taufik mengatakan, pelatihan ini sebagai pondasi generasi muda NU dalam mengarungi perubahan zaman saat ini. Pola pikir anak-anak muda harus bisa semakin maju mengikuti zaman, namun tetap berpegang teguh pada ajaran ahlul sunah wal Jamaah.

“Jangan sampai terjerumus dalam perkembangan media sosial yang perkembangannya sangat pesat, harus dikendalikan,” katanya.

Salah satunya adalah dengan cara memberikan pemahaman dan pengertian yang benar bagi generasi muda NU tentang manfaat dan nilai positif media sosial. Sehingga media sosial bisa dijadikan ajang untuk mengangkat kredibilitas NU di mata masyarakat.

“Media sosial bisa kita manfaatkan untuk hal-hal yang positif, sehingga bisa semakin membawa nama NU lebih baik dan dikenal di khalayak luas,” harapnya.

Sementara itu Setyo Wuwuh salah satu pemateri menambahkan, media sosial merupakan salah satu sarana yang sangat tepat untuk digunakan sebagai ajang pengenalan kepada masyarakat, apalagi saat ini sebagian besar masyarakat sudah mengenal dan mempunyai akun media sosial.

“Kita manfaatkan media sosial sebagai sarana untuk pengenalan, melalui prestasi dan sejumal kegiatan positif lainnya,” kata jurnalis Magelang Ekspres ini.

Ia menambahkan, peran media sosial saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan di era 4.0 ini, media sosial bisa dijadikan ujung tombak dalam pengembangan organisasi maupun lembaga dan individu.

“Tinggal bagaimana kita memanfaatkan media sosial, selama digunakan untuk hal yang positif pasti hasilnya akan lebih baik,” katanya. (set)