Literasi Masyarakat Kota Magelang Minim, Inilah yang Dilakukan Komunitas Literasi Sosial

foto : IST/magelang ekspres LITERASI. Komunitas Literasi Sosial membuka lapak buku bacaan gratis di Alun-alun Kota Magelang yang menggunakan penerangan yang cukup sehingga mereka mudah membaca di malam hari.
foto : IST/magelang ekspres LITERASI. Komunitas Literasi Sosial membuka lapak buku bacaan gratis di Alun-alun Kota Magelang yang menggunakan penerangan yang cukup sehingga mereka mudah membaca di malam hari.

MAGELANG. MAGELANGEKSPRES.COM- Komunitas Literasi Sosial berinisiatif membuka lapak buku bacaan gratis di Alun-alun Kota Magelang setiap malam minggu. Aksi ini dilatarbelakangi kelompok itu melihat minimnya literasi pada masa kini.

Anggota Komunitas Literasi Sosial, Farhan Sofyan mengatakan, komunitas itu awalnya mulanya terbentuk dari teman tongkrongan semasa SMA.

Sewaktu masih berseragam putih abu-abu, mereka sudah memiliki rencana untuk membuka perpustakaan.Kami ingin buka perpustakaan, karena punya keresahan yang sama mengenai masyarakat masa sekarang yang minim tentang literasi. Lalu kami terpikir untuk menyediakan lapak buku bacaan gratis di jantung Kota Magelang pada Maret 2021,” katanya, kemarin.

Ia menjelaskan, dibukanya lapak bacaan gratis merupakan kegiatan utama dari komunitasnya, selain juga menggelar diskusi mimbar. Setiap kali membuka lapak pihaknya menyajikan beragam buku bacaan yang bisa untuk semua kalangan.

“Sasaran kami memang semua kalangan, dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Maka, buku yang kami sajikan juga beragam, dari komik, filsafat, agama, sosial, politik, pengetahuan umum, sastra, dan masih banyak lainnya,” ujarnya.

Anggota lainnya, Enggar Priambodo menyebutkan, buku yang tersedia sebagian besar merupakan koleksi pribadi dari anggota komunitas serta hasil donasi dari masyarakat. Komunitasnya terbuka menerima donasi buku apapun yang bisa dihubungi melalui media sosial komunitas, yakni instagram @literasisosial_.

“Kami juga kerap membuat diskusi mimbar dan kegiatan sosial kemanusiaan, seperti donasi untuk PAUD di Muntilan. Lalu pasar gratis di Bandongan dan nonton bareng serta bedah film, seperti film Kinipan dan film KPK End Game di Kedai Mbah Hogen,” jelasnya.

Selain berkegiatan sendiri, kata Enggar, komunitasnya juga sering kolaborasi dengan pihak lain untuk partisipasi dalam acara tertentu. Tujuannya agar saling kenal dan menjalin silaturahmi yang kuat antar-komunitas ataupun perseorangan.

Artikel Menarik Lainnya :  Destinasti Pariwisata Super Prioritas. Pelebaran Jalan di Borobudur akan Dikawal Pemerintah Pusat

Di awal terbentuk, dia mengungkapkan, komunitasnya sempat mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas. Pasalnya, komunitas ini terbentuk saat masa pandemi Covid-19, sehingga beberapa kegiatan tidak bisa berjalan dengan maksimal.

“Kendala ketika masih masa PPKM, karena waktu itu memang jalan ke arah kota ditutup, pihak berwenang juga menerapkan jam malam di alun-alun, sehingga kami tidak bisa membuka lapak dan harus menghentikan kegiatan walaupun belum usai,” paparnya.

Sementara itu, Alvin Reza, salah satu pelopor Komunitas Literasi Sosial menyebutkan, komunitas sini diprakarsai oleh 6 orang, yakni Farhan Sofyan, Anis Saiful, Enggar Priambodo, Baruna Bima, Yogi Ivan, dan Alvin Reza. Keenam anak muda penuh semangat ini tergabung dalam satu tongkrongan saat SMA.

“Sekarang anggota sudah ada 15 orang. Kami sangat terbuka untuk anggota baru dan tidak hanya terpaku untuk kalangan mahasiswa. Tidak ada syarat khusus untuk bergabung, yang penting konsisten dan bertanggung jawab,” ucapnya. (wid)