Lima Desa di Garung Bahas Kerjasama MargoMarem

PETAKAN. Para kades di kawasan Margomarem Kecamatan Garung membahas berbagai hal untuk program bersama
PETAKAN. Para kades di kawasan Margomarem Kecamatan Garung membahas berbagai hal untuk program bersama

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Lima desa di Kecamatan Garung yakni Desa Maron, Larangan, Tlogo, Menjer, dan Mlandi sejak dua tahun lalu tengah mengembangkan kerjasama dalam konsep kawasan   dengan nama Margomarem. Menindaklannjuti hal tersebut, Bidang Pengembangan dan Destinasi wWisata Disparbud menggelar tahapan perencanaan pengembangan tata kelola destinasi wisata pedesaan bersama para stakeholder terkait dan lintas bidang di Resto Ongklok, Senin (3/8).

Dijelaskan Kabid Destinasi dan Pengembangan, Edi Santoso, pihaknya juga mengundang para praktisi di bidang wisata, Dewan Riset, hingga tokoh BUMDes bersama yang menaungi ke-5 desa.

“Di agenda FGD ini adalah awal perencanaan pengembangan tata kelola destinasi Wisata Pedesaan Kawasan Margomarem yang sudah diinisiasi sekitar dua tahun lalu. Harapannya bisa ditindaklanjuti dengan program pendampingan untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita bersama, yang kaitannya dengan pengembangan dari sektor wisatanya. Mengingat kekayaan alam di kawasan itu sangat kaya dan jadi daya tarik utama,” ungkapnya.

Hal itu disambut antusias para kepala desa yang menghadiri FGD dan memberikan pandangannya terkait kondisi terkini di desanya. Salah satu kades, dari Desa Tlogo, Tulus menyebut bahwa potensi utama dari kawasan tersebut hampir sama yakni pada pertanian, peternakan, hingga perikanan. Tlogo dan Maron sendiri masuk di dua desa yang mencakup telaga Menjer maupun bukit seroja dan bukit Cinta.

“Selain beberapa potensi lain, ada wisata religi makam mbah Nuriman dan Dewi Sri yang mungkin belum diekspos. Kami juga ada kerajinan mulai dari kaligrafi dari kulit telur, topeng, hingga bambu. Di desa lain di Margomarem juga ada beberapa kesenian dan atraksi budaya. Yang saat ini butuh ditingkatkan adalah SDM dan juga akses yang masih kurang baik. Begitu juga penjualan hasil pertanian yang dari harga sering buruk,” ungkapnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Vaksin Mobile, Sebar 500 Dosis Sinovac bagi Pelaku Wisata Wonosobo

Baca Juga
Tanaman Kentang Terancam Bun Upas, Risiko Gagal Panen

Selain berbagai masalah itu juga disebut oleh Kades Menjer, Slamet Raharjo bahwa masalah di kawasan Margomarem adalah belum adanya pengolahan sampah atau TPA, sehingga setiap minggunya sampah dibawa langsung ke TPA Wonorejo. Hal itu mengingat per minggunya volume sampah di lima desa bisa mencapai dua ton.

“Harapan kami, permasalahan sampah ini bisa ada solusi pengelolaan bersama. Sebenarnya potensi utamanya tetap pertanian yang butuh ditingkatkan akses jalannya dan masalah utamanya sampah ini,” ungkapnya.

Kecamatan garung, terutama kawasan Margomarem menjadi penyumbang sayur terbesar Wonosobo dengan berbagai komoditas, salah satunya labu siam. Sehingga produk hortikultura butuh dijual dengan cara yang lebih baik. Begitu juga dengan produksi Pati teles atau tepung basah sebagai pemasok bahan tempe kemul yang kebutuhan hariannya tinggi.

“Di Larangan Lor, kami ada program yang mendukung pendidikan dengan fasilitasi dana desa yang harapannya kedepan bisa dukung Sumber Daya Manusia di Wisata, kami juga melihat bahwa sektor wisata mulai bergeliat. Kami ingin menggali kembali sejarah pendiri desa,” ungkap Kades Dangin. (win)