Legoksari Nyawiji, Keceriaan Petani dan Mahasiswa Menyambut Panen Raya Tembakau

Legoksari Nyawiji, Keceriaan Petani dan Mahasiswa Menyambut Panen Raya Tembakau
Mahasiswa dan mahasiswi ISI Surakarta bersama warga tengah menampilkan pagelaran seni dalam rangka panen raya tembakau, Kamis (25/8/2022) malam. Foto: rizal ifan chanaris.

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Tembakau merupakan salah satu komoditas tanaman yang begitu “disakralkan” oleh para petani di Kabupaten Temanggung lantaran nilai jualnya yang dianggap cukup fantastis. Tak heran, mereka sangat berharap berkah tinggi pada sisi kualitas dan harga “emas hijau” tersebut tatkala musim panen raya tiba setiap tahunnya.

Hal itu yang begitu kental terlihat saat digelarnya gebyar seni dalam rangka panen raya tembakau di Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung pada Kamis (25/8/2022) malam dengan mengusung tema “Legoksari Nyawiji”.

Dengan menggandeng mahasiswa-mahasiswi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, warga setempat menampilkan beragam pertunjukan seni dan budaya yang selama ini menjadi sebuah kearifan lokal yang cukup adiluhung di daerah yang menjadi salah satu sentra utama penghasil tembakau di lereng Gunung Sumbing ini.

Tak hanya budaya seni budaya lokal seperti Topeng Ireng, Kuda Lumping atau Jathilan, serta Reog Ponorogo saja, bersama penduduk setempat, para mahasiswa dan mahasiswi yang tengah menggelar KKN di desa petani itu juga menginspirasi dihelatnya “Tarian Kolosal Menyambut Panen Raya Tembakau” yang mengkisahkan haru biru petani hingga sejarah awal mula tembakau sampai hingga berkembang di wilayah tersebut.

Menurut salah seorang pemangku adat, Jumbadi (60), gebyar seni sendiri merupakan wujud suka cita para warga yang mayoritas adalah petani dalam menyambut datangnya masa panen raya tembakau.

Bukan tanpa alasan, tembakau merupakan salah satu komoditas tanaman yang selama ini menjadi unggulan serta penopang kehidupan warga masyarakat di Desa Legoksari.

Menurut sejarah yang ada, dahulu bibit tanaman tembakau dibawa pertama kali oleh seorang tokoh penyebar agama Islam di wilayah lereng Gunung Sumbing bernama Joko Teguh atau yang saat ini dikenal dengan nama Ki Ageng Makukuhan.

Bibit tanaman tembakau berkualitas tersebut tak lain merupakan titipan dari sang guru, yakni Sunan Kudus yang kita kenal sebagai satu dari Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.

“Tarian kolosal ini mengetengahkan cerita bagaimana bibit tanaman tembakau pertama kali dibawa ke lereng Gunung Sumbing oleh penyebar agama Islam di wilayah Kedoe zaman dahulu kala bernama Joko Teguh alias Ki Ageng Makukuhan. Selain Gunung Sumbing, tembakau juga disebar hingga ke wilayah lain seperti kawasan Gunung Sindoro, Merapi, hingga Merbabu. Tak heran apabila tembakau menjadi tulang punggung warga di daerah ini sampai sekarang. Maka, datangnya panen raya harus kita sambut dengan sukacita penuh kegembiraan,” jelasnya.

Salah seorang mahasiswa ISI Surakarta, Muhammad Danu Saputro (24) asal Kabupaten Sukoharjo mengaku proses KKN di Desa Legoksari ini telah digelar selama satu bulan dan diikuti oleh sedikitnya 13 mahasiswa maupun mahasiswi.

Menurutnya, selama kurun waktu tersebut mereka sangat takjub dengan berbagai khazanah budaya dan kultur masyarakat yang mayoritas merupakan petani tembakau.

“Banyak pengalaman baru yang membuat kami sangat terkesan. Terutama bagaimana masyarakat menjaga adat, seni, dan budaya yang ada sejak turun-temurun hingga bagaimana kultur kehidupan warga yang mayoritas merupakan petani tembakau,” bebernya.

Ia menambahkan, untuk dapat mengemas sebuah tari kolosal yang kental akan nuansa tema panen raya tembakau berikut sejarahnya itu, mereka secara rutin mencari informasi dari berbagai sumber, termasuk dari pelaku dan pemangku budaya setempat.

“Butuh sebuah observasi mendalam agar tema yang kami usung berdasar sejarah yang berkembang sekaligus pesan yang kami sampaikan dapat ditangkap oleh para penonton,” imbuhnya. (riz)