Lahir dari Keprihatinan Siswa Biasa Plagiat, Sapu Lidi Masuk Top 33 KIPP Provinsi Jateng

Produk inovasi Strategi Pelayanan Publik untuk Siswa dan Guru Melalui Budaya Literasi Digital (SAPU LIDI)
KIPP. Innovator Sapu Lidi, Puji Narima Wati saat menjalani evaluasi Top 33 Nominator KIPP Jateng, di Ruang Kertonegoro Setda, Rabu (13/10).

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM – Produk inovasi Strategi Pelayanan Publik untuk Siswa dan Guru Melalui Budaya Literasi Digital (SAPU LIDI), hasil karya Puji Narima Wati, guru Bahasa Inggris SMP Negeri 2 Selomerto Wonosobo, berhasil masuk nominasi Top 33 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Tingkat Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

Belum banyak yang tahu, bahwa inovasi tersebut berawal dari rasa prihatin akibat rendahnya minat baca tulis (literasi) siswa, dan berimbas pada kebiasaan mereka melakukan plagiarism (mencontoh karya orang lain) saat mengerjakan tugas-tugas sekolah. Perihal tersebut diungkap innovator Sapu Lidi, Puji Narimawati saat ditemui seusai evaluasi Top 33 Nominator KIPP Jateng, di Ruang Kertonegoro Setda, Rabu (13/10).

“Awalnya karena kami prihatin dengan kurangnya minat baca para siswa SMP Negeri 2 Selomerto, sehingga kami mencoba untuk membuat program membaca dan menulis secara digital melalui aplikasi Chat Whatsapp,” terangnya.

Menurutnya,  para siswa melalui platform pesan digital tersebut, bisa dilakukan check orisinalitasnya menggunakan portal Small SEO Tools yang tersedia di internet. Hasilnya menunjukkan sebagian besar hasil tugas siswa memang produk plagiasi, sehingga mereka yang plagiat mengulang pengerjaannya.

Setelah melalui ujicoba dan upaya untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap minat literasi digital, Puji menyebut kebiasaan plagiasi para siswa, khususnya pada tugas-tugas membuat esai, buku puisi dan cerpen menurun drastis.

“Akhir tahun ajaran lalu, hanya ditemukan 10 siswa saja yang melakukan plagiasi dan itupun tidak utuh sehingga bisa kami maklumi,” ujarnya.

Dengan naiknya minat literasi digital, Puji juga mengaku gembira, karena nilai rata-rata siswa SMP Negeri 2 Selomerto mengalami peningkatan dari 82 menjadi 83 poin. Namun demikian, dibalik keberhasilan menguatkan kegemaran baca dan tulis siswa, Puji juga mengakui dari hasil evaluasi KIPP tersebut, masih banyak yang perlu dibenahi dan diperbaiki.

Artikel Menarik Lainnya :  Minim Regenerasi Dalang, Wayang Othok Obrul Selokromo di Ujung Tanduk

“Ada pesan dari dewan juri, agar karya ini benar-benar nantinya dikembangkan secara mandiri dan bukan berkolaborasi dengan pihak lain,” terangnya.

Saat ini, SAPU LIDI diakui Puji masih merupakan hasil kerjasama dengan GMB Indonesia terutama dalam hal penyediaan literasinya.  Sekarang mulai ada dukungan dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo yang akan membentuk tim gerakan literasi sekolah sehingga pihaknya  optimis harapan dari dewan juri tersebut dapat dipenuhi.

Ia berharap inovasi sederhana yang mudah untuk diterapkan itu akan mampu menembus persaingan di kompetisi ketat tingkat Provinsi dan dapat diimplementasikan lebih luas di seluruh sekolah di Kabupaten Wonosobo.

Sementara itu, Asisten Sekda Bidang Administrasi Dan Umum, Supriyadi mengaku, sangat mendukung upaya insan pendidik untuk mengembangkan inovasinya, demi terwujudnya kemajuan bidang pendidikan di Kabupaten Wonosobo.

“Dengan adanya inovasi yang asik dan kreatif ini kita tentu menjadi lebih optimis bidang pendidikan di Kabupaten Wonosobo bakal turut meningkat, khususnya di tengah pemanfaatan sarana digital dalam pengajaran di masa pandemi covid-19 seperti saat ini,” harapnya.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Wonosobo, akan terus berupaya mendorong agar karya-karya inovatif lain di sektor pelayanan publik juga segera bermunculan, dan mampu berbicara banyak di kompetisi-kompetisi baik di tingkat provinsi maupun nasional. (gus)