Kuantitas Ekspor Gula Merah di Purworejo Anjlok, Terkendala Tingginya Biaya Pengiriman

SIAPKAN EKSPOR. Proses pemuatan gula semut yang akan diekspor di Gudang Produksi Kopwan Srikandi Purworejo,

MAGELANGEKSPRES.COM,PURWOREJO – Kuantitas ekspor gula semut produksi Koperasi Wanita (Kopwan) Srikandi Purworejo anjlok selama pandemi Covid-19. Meningkatnya biaya jasa angkutan laut menjadi penyebab utama terkedalanya pengiriman.

Ketua Kopwan Srikandi, Sri Susilowati, saat dikonfirmasi menyebut kendati tetap dapat melakukan ekspor, jumlahnya sangat jauh berbeda dibandingkan sebelum pandemi melanda.

“Bulan ini (Maret) kami hanya mengirim 1 kontainer ke Australia. Tapi bisa full sebanyak 26 ton dengan tujuan Australia,” sebutnya, Senin (22/3).

Menurutnya, kapal yang digunakan untuk ekspor sudah pesan relatif lama, yakni sekitar bulan November 2020 lalu. Pihaknya mengaku harus menunggu antrean kapal yang beban biayanya tidak terlalu tinggi.

“Biaya kapal ini ditanggung oleh buyer. Jadi kalau memang terlalu tinggi, buyer ya tidak berani dan memilih meminta penghentian pengiriman dahulu,” lanjutnya.

Dijelaskan, selama pandemi biaya kapal memang meningkat sangat tinggi. Angkanya lebih dari kisaran antara 10-15 persen dibanding biasanya.

Baca juga
Raja dan Ratu KAS Bebas, Surat Perpanjangan Turun, Bakal Ditahan Lagi

“Naiknya itu bisa 2-3 kali lipat. Ya memang membuat kesulitan buyer. Dan kami pun harus sabar menunggu sampai ada kapal yang biayanya terjangkau,” katanya.

Kendati penuh batasan, Susilowati mengaku masih bersyukur. Setidaknya selalu ada pengiriman, mesti tidak setiap bulan seperti biasanya dapatdilakukan hingga 2 kali.

“Beberapa negara sudah kami kirim seperti Belanda, Srilanka dan terakhir Januari kemarin kami mengirim ke Rusia. Walaupun untuk Rusia memang tidak bisa 1 kontainer full. Tapi hanya mengirim 10 ton saja,” ungkapnya.

Susilowati menambahkan bahwa sebenarnya permintaan gula merah atau brown sugar sangat tinggi dari Luar Negeri. Namun, memang ada beberapa kendala sehingga permintaan itu belum mampu dipenuhi.

Artikel Menarik Lainnya :  Progres Laporan Penyalahgunaan DD Kemiri Kidul Dipertanyakan

“Brown sugar ini sudah ada pangsa pasarnya. Jika pintar-pintarnya kita menentukan mana yang akan dilayani,” katanya.

Walaupun banyak keterbatasan selama pandemi, Susilowati mengaku tetap dapat membeli gula merah dari petani. Pasalnya, selain melayani permintaan Luar Negeri, pihaknya juga menyuplai kebutuhan dalam negeri.

“Untuk harga masih stabil. Dari petani juga harganya ajeg. Demikian juga harga yang kami berikan kepada buyer,” tandasnya.  (top)