Kualitas Baik, Harga Tembakau Wonosobo Malah Anjlok

TEMBAKAU. Para ibu tengah menyortir daun tembakau untuk diolah.
TEMBAKAU. Para ibu tengah menyortir daun tembakau untuk diolah.

MAGELANGEKSPRES.COM,WONOSOBO – Meskipun musim panen tembakau menjadi tumpuan harapan bagi banyak petani, khususnya di lereng Sindoro Sumbing hingga lereng pegunungan Dieng, namun datangnya pandemi corona semakin memperparah kondisi tata niaga dedaunan tersebut.

Menurut salah satu petani senior di kawasan Kertek, H Kodir, tahun ini menjadi salah satu momen paling sepi. Baik dari sisi pembelian hingga harga yang turun cukup drastis.

“Kalau kualitas tembakau tahun ini sedang bagus. Dari kelir (warna) dan juga aroma yang dihasilkan kalau dibanding  tahun lalu lebih baik sekarang. Tapi daya beli dari pabrik-pabrik rokok sepertinya memang semakin turun. Kita sekarang hanya andalkan penjualan tembakau untuk lintingan karena memang masih lumayan,” katanya ditemui kemarin (29/9) di Pasar Kertek.

Lesunya daya beli dari pabrik dan industri rumahan juga diungkapkan Kodir berimbas pada produk sampingan yang lazim muncul ketika masa panen. Salah satunya ialah industri rumahan keranjang tembakau, rigen untuk menjemur, hingga peralatan untuk merajang.

“Dari pantauan teman-teman memang tahun ini selain karena pandemi juga memang semuanya turun. Imbasnya langsung ke semua yang berhubungan saat masa panen. Dari mulai kebutuhan transport, tenaga pengolah, sampai alat juga terimbas. Bahkan saya saat ini masih menyimpan hasil panen dan olahan tembakau tahun lalu,” imbuhnya.

Hal itu dibenarkan salah satu pedagang tembakau asal Parakan Temanggung, Suyitno. Ia menyebut serapan dari pasar memang turun sekitar 20 sampai 30 persen dibanding tahun lalu. Dengan berakhirnya masa panen pada pekan awal September lalu, seharusnya di akhir September para petani sudah mulai menjual olahan.

Baca juga
Diterjang Puting Beliung, Enam Rumah di Kwadungan Rusak

“Kalau sekarang, rata-rata di ladang sudah bersih dan harusnya sudah dikemas semua. Tapi kenyataannya pembeli memang sedikit sekali. Sekarang kebanyakan pembeli personal, bukan dari perusahaan. Dengan banyaknya perantara itu kekhawatiran kami harga semakin anjlok,” katanya.

Hal itu menjadikan para petani semakin pesimis dengan tata niaga tembakau yang dinilai semakin tidak menjanjikan. Bahkan para petani menghabiskan modal yang tidak sedikit. Untuk satu hektar lahan saja diungkapkan Suyitno, tembakau yang dihasilkan bisa mencapai sedikitnya dua ton lebih. Jika petani hanya bisa menjual setengahnya saja, maka modal mereka belum lunas.

“Ongkos tenaga sekarang mahal juga karena bisa sampai 100 ribu lebih. Sekarang harga tembakau hanya di kisaran 40 sampai 50 ribu, itu pun belum terjual semua, idealnya bisa sampai 80 ribu per kilo. Mayoritas petani di Lereng Sindoro Sumbing merasakan itu semua,” pungkasnya. (win)