Kota Magelang Layak Miliki Wisata Kota Tua, Walikota : Kaya Bangunan Bersejarah dan Budaya

HERITAGE. Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz ingin mengembangkan potensi Kota Magelang sebagai Kota Tua sebagai destinasi pariwisata paling potensial. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)
HERITAGE. Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz ingin mengembangkan potensi Kota Magelang sebagai Kota Tua sebagai destinasi pariwisata paling potensial. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Sebagai kota yang sudah berusia tua yakni 1114 tahun, Kota Magelang layak memiliki wisata heritage. Kota Tua punya pengertian yaitu objek wisata sejarah yang berbasis warisan budaya dan merupakan wilayah perkotaan tempo dulu.

“Kota Magelang sangat potensial memiliki wisata Kota Tua. Selain karena usia kotanya yang memang tua, Magelang juga punya kekayaan warisan budaya, bangunan, hingga catatan bersejarah. Ini yang perlu kita kembangkan, untuk mendongkrak jumlah wisatawan,” kata Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz, belum lama ini.

Kawasan Kota Tua, katanya, harus mampu menjadi daerah tujuan wisata bagi wisatawan mancanegara dan memiliki keunikan sehingga dapat berkompetisi dalam skala global.

Pengembangan bisa dimulai dari mengintegrasikan paket wisata heritage. Untuk diketahui, Kota Magelang punya beberapa museum yang laik dikunjungi seperti Museum OHD, Museum BPK, Museum Bumi Putera, Museum Abdul Djalil, Museum Jenderal Sudirman, Museum Diponegoro, dan lainnya.

“Juga jangan lupa Kota Magelang punya Gunung Tidar yang ada makam atau petilasan penyebar agama Islam paling karismatik,” ujarnya.

Sayangnya zona heritage tersebut belum tergarap optimal. Aziz melihat perlunya pengembangan produk dan paket wisata yang mengintegrasikan zona-zona tersebut agar dapat menjadi paket wisata yang inovatif dan menawarkan pengalaman unik bagi wisatawan.

“Pengembangan kawasan wisata Kota Tua diperlukan juga peran serta dari para komunitas yang dapat menjadi daya tarik wisata, salah satunya komunitas, seniman, budayawan, pengusaha, media massa, dan masyarakat. Kita harus membangun narasi tentang promosi kota tua dan wisata kita,” tandasnya.

Aziz juga meminta adanya kolaborasi wilayah terkait pariwisata. Kota Magelang, lanjutnya, merupakan daerah perkotaan yang dekat dengan destinasi super prioritas Candi Borobudur.

Artikel Menarik Lainnya :  Dosen Untidar Berikan Bantuan Mesin Keripik Singkong untuk UMKM di Gunungpring

“Kita harus memanfaatkan peluang ini dengan baik. Bagaimana caranya setelah wisatawan ke Borobudur, merasakan hal yang belum lengkap kalau belum ke Kota Magelang,” tuturnya.

Sementara itu, General Manager Hotel Atria Magelang, yang juga pegiat pariwisata Chandra Irawan menjelaskan, wisata heritage memang yang paling berpeluang dibandingkan destinasi wisata lain di Kota Magelang. Mengingat kawasan Kota Magelang yang hanya 18,53 kilometer persegi, sehingga akan sangat sulit untuk mengembangkan wisata panorama maupun alam.

“Yang paling potensial adalah heritage. Tinggal bagaimana keseriusan pemerintah menggarapnya, karena Kota Magelang walaupun kecil tapi punya kekayaan cagar budaya dan sejarah. Bahkan sejarah perjuangan bangsa ini juga tercatat pernah terjadi di Magelang,” ucapnya.

Fakta lainnya, kata Chandra, pernah mendapati beberapa warga negara Belanda yang datang ke Magelang untuk mencari makam kakek dan nenek mereka. Namun karena tidak ada pemandu wisata, sehingga mereka dibiarkan mencari sendiri makam-makam itu.

“Akhirnya mereka tetap tidak mengetahui keberadaan makam itu. Coba kalau mereka tahu, tahun depan pasti akan datang ke sini lagi, untuk berkunjung. Seharusnya ini bisa dimanfaatkan, potensi wisatawan dari mancanegara, ternyata berpeluang juga masuk ke Kota Magelang,” tandasnya.

Chandra juga mengusulkan eksklusivitas narasi terkait Gunung Tidar dan kekayaan sejarah di dalamnya. Menurutnya, cerita tentang Gunung Tidar ini masih terpecah menjadi beberapa versi.

“Sebut saja makam Kyai Sepanjang, ada yang mengatakan kalau itu senjata ada juga yang mengatakan kalau itu makam orang. Nah ini yang perlu diluruskan terlebih dahulu, disamakan terlebih dahulu, sehingga di daerah manapun, hanya akan tahu kalau Gunung Tidar itu punya satu cerita,” pungkasnya. (wid)