Kopi Kaligesing Akan Diusung ke Rusia

    Kopi Kaligesing Akan Diusung ke Rusia
    SEDUH KOPI. Sugiharto menyeduh Kopi Seplawan di cafenya yang berada di Desa Donorejo Kecamatan Kaligesing, kemarin.  

    //Dalam Festival Indonesia di Moskow//

    PURWOREJO– Kopi Seplawan produksi Kelompok Wiratani Mandiri Desa Donorejo Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo mendapat kesempatan mengisi Festival Indonesia keempat di Taman Krasnaya Presnya pusat kota Moskow Negara Rusia pada 2-4 Agustus 2019. Dalam ajang yang digelar oleh KBRI Moskow itu, Kopi Seplawan akan disandingkan bersama ratusan peserta dari Indonesia yang terdiri atas pejabat pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku bisnis, dan tim kesenian.

    Totok Sugiharto (42), Ketua Kelompok Wiratani Mandiri Desa Donorejo yang akan mengusung Kopi Seplawan ke Rusia, mengaku bangga atas kepercayaan yang diberikan oleh KBRI Moskow. Baginya, ajang kali ini menjadi kesempatan berharga untuk mempopulerkan Kopi Purworejo di tingkat internasional.

    Terlebih, Festival Indonesia keempat akan didahului Forum Bisnis Indonesia-Rusia dan business matching pada 1 Agustus 2019. Selama Festival Indonesia para pelaku bisnis Indonesia dapat melakukan interaksi dan business matching dengan para mitranya di Rusia.

    “Untuk Purworejo ini baru kali pertama. Kemarin saya sudah sowan Pak Bupati dan beliau mendukung. Selain Kopi Seplawan, nanti juga akan saya bawa beberapa produk UMKM lokal Purworejo, seperti batik, sepatu, dan beberapa lainnya,” kata Sugiharto yang juga Ketua Komunitas Penggiat Kopi Purworejo, Selasa (18/6).

    Sugiharto menyebut, Kopi Seplawan terdaftar sebagai peserta festival setelah sebelumnya mendapatkan penilaian dan uji kelayakan dari pihak KBRI. Salah satu keunggulan Kopi Seplawan yakni citarasanya yang tinggi dan adanya konsep konservasi ekonomi berbasis tanaman kopi dalam pengolahannya.

    Pengembangan tanaman kopi di Desa Donorejo semata tidak hanya untuk mengejar keuntungan ekonomi masyarakat, melainkan juga ada misi penyelamatan lingkungan.

    “Daerah Kaligesing didominasi dataran tinggi dan rawan longsor. Jadi selain untuk meningkatkan derajat ekonomi, Kopi Seplawan yang memiliki kualitas tinggi ini bagus sebagai media konservasi,” sebutnya.

    Artikel Menarik Lainnya :  Melongok Gerak Kereta Api Menerobos Pandemi

    “Untuk tanaman kopi, 1 kali tanam akan berbuah 40 tahun. Beda dengan tanaman lain seperti Sengon atau Albasia,” imbuhnya.

    Menurut Sugiharto, Kopi Kaligesing dengan pola tanam organik memiliki citarasa unik dengan kafein yang kuat. Tingginya permintaan dari berbagai wilayah di Indonesia membuat desa-desa di wilayah Kaligesing pun bergeliat mengembangkan kopi dan menjadikannya produk unggulan.

    Beberapa diantaranya Desa Kedunggubah, Tawangsari, Pucungroto, Somongari, Ngaran, dan Hulosobo.  Desa lain di luar Kecamatan Kaligesing juga bermunculan, seperti Desa Pamriyan Kecamatan Pituruh, Purbayan Kecamatan Kemiri, Brunorejo Kecamatan Bruno, dan Redin Kecamatan Gebang.

    “Sejak ada pelatihan, minat bertanam kopi bagus, kita sudah di perhitungkan di tingkat nasional. Pada awal Mei 2019 kemarin kita juga mendapat pelatihan kopi dari Kementerian Perindustrian di Desa Kedung Gubah,” jelasnya.

    Lebih lanjut Sugiharto mengungkapkan bahwa Kopi Seplawan telah mendapatkan pengakuan berbagai pihak dengan kerapnya menjuarai berbagai kompetisi. Selain itu, potensi ekspor Kopi Seplawan kian tinggi.

    “Ada orang dari beberapa negara, seperti Australia, Hongaria, Fhilipina, dan Rusia yang sudah ambil produk kita,” ujarnya. (top)