Kemarau, Rawan Bencana Kebakaran

0
220
Kemarau, Rawan Bencana Kebakaran
BAHU MEMBAHU. masyarakat bahu membahu membersihkan puing-puing bekas kebakaran di Dusun Mengor Kecamatan Kaloran,

TEMANGGUNG – Musim kemarau tahun ini tidak hanya berdampak pada krisis air bersih saja, namun panjangnya musim kemarau tahun ini juga sudah menjadi salah satu penyebab terjadinya kebakaran hutan, lahan dan sejumlah rumah.

Maka dari itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung meminta pada masyarakat waspada bahaya kebakaran. Pasalnya saat musim kemarau seperti ini api sangat mudah membesar.

“Kami tekankan pada warga untuk waspada dan dapat mengantisipasi terjadinya kebakaran di musim kemarau atau musim kering” pesa Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Temanggung Gito Walngadi, kemarin.

Kebakaran lahan antara lain di Kecamatan Bulu, sedangkan kebakaran perumahan di Kecamatan Kandangan dan Temanggung. Kebakaran hutan juga sempat terjadi pada beberapa waktu lalu. Meski tidak ada korban jiwa dan luka tetapi kerugian mencapai puluhan juta rupiah.

“Memang sejauh ini kebakaran yang terjadi di Temanggung tidak menimbulkan korban jiwa, tapi menyebabkan kerugian yang cukup banyak, bahkan korban harus mengungsi karena rumahnya ludes terbakar,” katanya.

Berdasar prakiraan dari BMKG, katanya, puncak kemarau pada Agustus atau September. Tetapi, kemarau bisa jadi lebih panjang yakni hingga Oktober.

Dalam kesempatan yang sama Gito juga menyampaikan terkait distribusi air bersih yang sudah dilakukan sejak 17 Juni 2019. Sampai saat ini yang mengalami kekeringan terjadi di 11 kecamatan yang meliputi 20 desa dan 48 dusun.

” Ada penambahan satu desa yang mengalami krisis air bersih yakni Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu,” katanya.

Sejumlah pihak lanjjtnya, sudah terlibat dalam distribusi air bersih, di antaranya perusahaan melalui dana CSR, komunitas dan PC Muslimat NU. Bantuan dari Muslimat untuk hari Jumat didistribusikan untuk masyarakat di Dusun Bugen Desa Ngeblok Kaloran dan Dusun Drono Desa Drono Kecamatan Tembarak.

Menurut Gito, musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga kurang lebih satu hingga dua bulan kedepan. Oleh karena itu masyarakat harus semakin waspada. Dan bagi masyarakat yang sudah merasa kekurangan air bersih segera membuat surat permohonan permintaan bantuan air bersih.

“Jangan menunggu, laporkan kepada perangkat desa, kemudian perangkat desa atau lurah membuat surat permohonan dan permintaan bantuan, prosedur itu memang harus dijalani,” pesannya. (set)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here