Kekayaan Kota Magelang Berpotensi Menarik Wisatawan

Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz mengajak awak media arus utama dan pegiat media sosial membuat konten positif untuk kemajuan wisata di Kota Magelang
KOMUNIKASI. Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz mengajak awak media arus utama dan pegiat media sosial membuat konten positif untuk kemajuan wisata di Kota Magelang. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Kehadiran media sosial di era digital saat ini banyak memberi dampak di berbagai sektor, salah satunya sektor pariwisata. Sebagian besar para pengguna media sosial selalu menunjukkan eksistensinya lewat aktivitas pariwisata yang diunggahnya.

Walikota Magelang, dr Muchamad Nur Aziz mengatakan, menangkap peluang ini, maka diperlukan kerja sama guna memasarkan objek wisata di wilayahnya. Tidak bisa dipungkiri, keberadaan para jurnalis media massa, blogger, vlogger, selebgram, youtuber, dan pegiat media sosial lainnya turut berperan dalam perkembangan pariwisata di era digitalisasi saat ini.

“Antara pemerintah, masyarakat, dan jurnalis harus satu tujuan mengembangkan Kota Magelang biar dikenal dan dikunjungi wisatawan regional dan nasional,” katanya di Taman Kyai Langgeng, belum lama ini.

Di mata Aziz, wartawan dan media arus utama adalah bagian yang tidak akan terpisahkan dengan pemerintahan. Sebab, andil besar telah ditunjukkan media massa selama ini dalam mengembangkan potensi pariwisata dan kesejahteraan masyarakat Kota Magelang.

“Tanpa wartawan dan media, pemerintah tidak bisa apa-apa. Oleh karena itu, kami berencana memberikan suksesi dan apresiasi bagi teman-teman jurnalis yang mampu membuat narasi membangun untuk Kota Magelang,” tutur dia.

Satu hal yang ia garisbawahi bahwa Kota Magelang termasuk Kota Tua karena usianya yang sudah menginjak 1.115 tahun. Ia ingin kekayaan sejarah ini bisa dimanfaatkan untuk menggaet wisatawan domestik maupun mancanegara.“Asalkan kita bersungguh-sungguh kita bisa menciptakan wisata heritage dengan baik. Kota Magelang itu kaya bangunan cagar budaya, sejarah, dan museum-museum, yang sebenarnya kalau kita seriusi akan menarik kunjungan wisatawan,” paparnya.

Salah satu caranya, kata Aziz, yakni dengan membuat narasi dan literasi tentang Kota Tua Magelang. Menjadikan heritage dan pariwisata sebagai isu lokal yang menasional.“Membangun narasi yang baik tentang wisata oleh kalangan jurnalistik, dipasarkan atau dipromosikan lewat media sosial, media massa, youtube, dan sebagainya, bahkan lewat mulut ke mulut sehingga dengan sendirinya pengunjung akan datang ke sini,” ungkapnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Seluruh Produk UMKM Kota Magelang Ada di Tokopedia

Dokter spesialis penyakit dalam itu menilai, kehadiran para jurnalis dan penggiat media sosial di bidang pariwisata juga sesuai dengan strategi promosi yang digunakan Kementerian Pariwisata. Promosi tersebut menggunakan istilah POSE (Paid media, Owned media, Social Media, dan Endorser). Strategi ini salah satunya diimplementasikan melalui media sosial.“Namun bukan berarti kita harus menghalalkan segala cara. Karena media sosial juga ada etikanya, tidak sebebas-bebasnya sehingga dapat berakibat buruk bagi generasi kita,” tandasnya.

Menurutnya, perlu adanya kolaborasi dan kerja sama antara media massa dengan influencer dalam pemasaran di sektor pariwisata.“Keberadaan jurnalis media mainstream dan pegiat media sosial dapat membantu peran Pemkot Magelang dalam menginformasikan berbagai objek wisata yang dimiliki Kota Magelang,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Magelang Wiwid Arif mengaku siap mendukung Pemkot Magelang dalam mengembangkan potensi pariwisata. Menurut dia, kerja sama antara jurnalis media massa dan pegiat media sosial bisa mudah diwujudkan asalkan ada komitmen yang sama di antara keduanya.“Selama ini media massa jalan sendiri, lantas hasil karya jurnalistiknya disebarluaskan secara bebas para pegiat media sosial tanpa izin. Di sini kami melihat kurangnya penghargaan terhadap karya-karya jurnalistik,” ucapnya.

Dia menjelaskan, di era teknologi digital seperti saat ini, terutama media sosial semua orang bisa menyampaikan informasi atau berita hanya melalui perangkat handphone. Berbeda dengan produk pers yang memiliki standardisasi, tim redaksi, dan dibatasi dengan kode etik jurnalistik, sehingga ada proses panjang sebelum ditayangkan.“Pers idealnya tetap berfungsi sebagai kontrol sosial sehingga bertanggungjawab kepada publik. Tanggung jawab ini juga mestinya dimiliki pegiat media sosial bahwa apa yang diunggah memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan,” pungkasnya. (wid)

Artikel Menarik Lainnya :  SMPN 7 Magelang, Bentuk Profil Pelajar Lewat Motivation dan Life Skills Training