Kebijakan PSBB Pukul Ekonomi Nasional

Kebijakan PSBB Pukul Ekonomi Nasional
Kebijakan PSBB Pukul Ekonomi Nasional

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah telah memukul roda perekonomian nasional, sehingga pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2020 anjlok ke posisi 2,97 persen, dibandingkan posisi sebelumnya pada kuartal IV/2020 di level 4,9 persen.

“Perlambatan kuartal I mungkin akan diikuti kuartal II di mana PSBB dilakukan lebih meluas. Melihat dampaknya di triwulan dua dan tiga yang terdampak cukup banyak akibat pelaksanaan PSBB,” ujar Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani dalam video conference, kemarin (11/5).

Melihat pertumbuhan ekonomi di luar ekpektasinya, bendahara negara ini terus berupaya keras mendorong pertumbuhan perekonomian nasional di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

Sri Mulyani, sebelumnya memprediksi pertumbuhan ekonomi 2020 di level 4,5 persen hingga 4,7 persen. Akan tetapi malah di bawah 3 persen. Hal ini karena penurunan penerimaan negara hanya sebesar 2,5 persen pada kuartal I/2020. “Sementara itu, defisit tercatat sebesar Rp76,4 triliun atau 0,45 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB),” katanya.

Sementara itu, ia menyebutkan pendapatan APBN untuk kuartal I/2020 masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,7 persen atau 16,8 persen. Dan, untuk penyerapan belanja negara tumbuh tipis sebesar 0,1 persen menjadi 17,8 persen pada kuartal I/2020.

Dalam penanganan pencegahan penyebaran corona, ia menyebutkan, pemerintah telah penambahan alokasi sebesar belanja sebesar Rp405,1 triliun. Dana itu untuk insentif di sektor kesehatan, penambahan bantuan sosial kepada seluruh masyarakat yang terdampak, insentif untuk pelaku usaha, dan pemulihan ekonomi.

Kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, bekerjasama dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus berupaya menstabilkan Rupiah yang terus mengalami penurunan sejak awal tahun. Kebijakan tersebut untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi domestik. “Terkait hal ini, BI telah melakukan kebijakan yakni penurunan suku bunga menjadi 4,5 persen, penurunan suku bunga secara konsisten dengan perkiraan inflasi rendah dan terkendali,” ujar dia.

Terpisah, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo Irhamna menilai, ambruknya perekonomian nasional di tengah wabah corona merupakan sesuatu yang wajar. Karena bukan hanya Indenesia saja yang mengalaminya, namun juga sejumlah negara lain. “Hal itu lumrah sebab ekonomi itu ada karena interaksi, sedangkan PSBB mengurangi interaksi tersebut. Interaksi yang masih terjadi didominasi oleh interaksi digital yang mayoritas dilakukan oleh kelas menengah atas,” ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (11/5).

Saran dia, agar roda ekonomia bisa tumbuh semula, maka pemerintah harus fokus pada sektor kesehatan. Dalam hal ini, anggaran yang dikucurkan untuk menangani pandemi Covid-19 harus dimaksimalkan untuk kesehatan masyarakat. “Kunci untuk menyelamatkan ekonomi adalah memfokuskan anggaran pemerintah untuk sektor kesehatan,” pungkasnya.(din/fin)