Kawasan Pakis yang Dulu Kurang Menarik, Kini Dilirik Investor

BERFOTO. Owner Omah Latareombo Coffee & Kitchen, Basori, berfoto dengan pengelola lainnya di depan resto.( foto nur imron rosadi / magelang ekspres )
BERFOTO. Owner Omah Latareombo Coffee & Kitchen, Basori, berfoto dengan pengelola lainnya di depan resto.( foto nur imron rosadi / magelang ekspres )

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – Kawasan lereng Gunung Merbabu di wilayah Kecamatan Pakis yang merupakan jalur penghubung Magelang dan Kota Salatiga, menjadi salah satu wilayah potensial untuk terus dikembangkan dari sektor wisata, salah satunya wisata kuliner.

Hal tersebut dibuktikan dengan semakin ramainya jalur yang dahulunya kurang menarik untuk bisnis, namun kini bermunculan destinasi-deatinasi baru, seperti Omah Latareombo Coffee & Kitchen misalnya. Destinasi ini dibangun dengan memadukan indahnya alam dan sajian lezat yang menggoda.

Owner Omah Latarembo Coffee & Kitchen, Basori mengungkapkan, banyak wisatawan yang melintas di jalur ini sering mengeluhkan tidak adanya tempat istirahat yang nyaman.

“Sering teman dari luar kota kalau lewat jalur ini mengeluh susahnya mencari tempat enak untuk istirahat sekadar makan atau minum. Padahal, pemandangan di sekitar sini luar biasa, ditambah udaranya yang sejuk,” ungkapnya, kemarin.

Sekitar tahun 2019 salah satu temannya memberanikan diri membuka warung kecil-kecilan yang menu utamanya kopi dan camilan. Tak disangka, warungnya laris manis dan sering dikunjungi wisatawan yang melintas.

“Warung kopi biasa, tapi lama-lama diterima masyarakat. Terutama orang luar daerah yang melintasi kawasan ini mampir untuk istirahat minum kopi, cemilan, dan menikmati pemandangan,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, ia pun memberanikan diri investasi di lahan yang sempat akan dijual tapi tidak laku ini untuk membuat restoran atau kafe. Sekitar tahun 2020 resmi dibuka dan langsung mendapat respon positif dari wisatawan.

“Pernah lahan ini mau saya jual, tapi tidak laku. Padahal waktu itu harganya sekitar Rp75.000 per meter. Akhirnya kita bikin saja warung kopi dan berkembang sampai sekarang. Sempat juga mau dibuat SPBU, tapi terpikir kalau kafe akan lebih banyak menyerap tenaga kerja,” jelasnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Xiaomi Luncurkan Redmi 10, Jagoannya Smartphone Entry-Level dengan Quad Camera 50MP

Basori mengaku, setelah kafenya ini berdiri, nilai ekonomi kawasan ini seketika melonjak. Harga tanah pun meningkat tajam hingga hampir jutaan rupiah per meter. Termasuk muncul potensi lain, seperti wisata edukasi pertanian dan wisata hutan pinus di daerah sekitar.

“Muncul wacana juga destinasi wisata yang akan dikelola BUMDes setempat. Dampak lainnya ekonomi warga sekitar menggeliat, seperti produk pertanian, aktivitas pemuda, dan potensi seni budaya,” paparnya.

Sejak berdiri, imbuhnya, pihaknya sudah memikirkan akan menggandeng grup seni dan budaya warga setempat untuk tampil di kafe. Pengunjung pun akan disuguhkan dengan pentas kesenian warga lokal, seperti jaranan dan leak.

“Ini menjadi program kita dari awal, tapi karena pandemi belum bisa terlaksana. Mungkin dalam waktu dekat akan kita realisasikan,” paparnya.

Sementara Triyudho Purwoko, pegiat seni budaya dan pariwisata mengaku sangat apresiasi terhadap tumbuhnya destinasi wisata kuliner di kawasan Pakis ini. Dengan hadirnya wisata ini, jalur yang tadinya sepi dan berbahaya kini jadi ramai dan dapat mengungkit potensi ekonomi.

“Sekaligus kawasan ini jadi penyangga Borobudur sebagai kawasan wisata super prioritas yang terus dikembangkan pemerintah. Kita perlu menjadi penyangga yang kuat, karena dengan itu adanya Borobudur bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat Magelang,” ungkapnya. (imr)