Kasus Malaria Naik Ribuan Persen, Desa di Purworejo Ini Sumbang Angka Terbanyak

Gigitan Nyamuk Malaria ( Photo ISTMEWA, www.pixabay.com )
Gigitan Nyamuk Malaria ( Photo ISTMEWA, www.pixabay.com )

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.COM – Kasus malaria di Kabupaten Purworejo mengalami kenaikan yang sangat drastis. Sepanjang tahun 2021, malaria di wilayah Kabupaten Purworejo mencapai 448 kasus. Sementara di tahun 2020, angkanya hanya 6 kasus dan tahun 2019 mencapai 30 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, Sudarmi saat dimintai konfirmasi awak media melaluia Kasi Penanggulangan Penyakit Dinkes Kabupaten Purworejo, Triyo Darmaji mengungkapkan, dari 448 kasus malaria di wilayah Kabupaten Purworejo itu, sebanyak 351 kasus berasal dari Kecamatan Bener. Adapun tiga kecamatan yang memiliki kasus malaria antara lain Kecamatan Loano 51 kasus, Kaligesing 42, dan Gebang 4 kasus.

“Di Kecamatan Bener, kasus malaria didominasi dari Desa Wadas. Puncaknya saat konflik proses ganti rugi lahan Bendung Bener di wilayah tersebut pada bulan Oktober lalu,” terang Triyo didampingit Staf Pengelolala Program Malaria, Widonarto, kemarin.

Lebih lanjut, Triyo mengungkapkan, tingginya angka penularan kasus malaria di Desa Wadas, salah satu penyebabnya adalah tingginya aktivitas warga di malam hari. “Mereka berkumpul di tempat yang menjadi habitat nyamuk Anopheles, seperti hutan di malam hari. Saat itulah penyebarannya masif,” jelasnya.

Diungkapkan oleh Triyo, pada awalnya warga tidak ingin ada pihak luar yang masuk ke desanya, termasuk petugas dari Dinkes. “Bagi yang kontra awalnya merasa tidak butuh atau abai dengan kesehatan mereka,” ucap Widonarto.

Tapi saat jumlah kasus sudah mencapai 300-an, barulah mereka sadar dan mau bekerjasama dengan tim penanggulangan penyakit malaria dari Dinkes.

Selanjutnya, imbuh Widonarto, langkah penanggulanngan berupa fogging serta pemasangan kelambu diserahkan kepada warga yang telah diajari sebelumnya oleh petugas Dinkes.
“Bahkan Desa Wadas menjadi pilot project desa lain dalam penanggulangan malaria,” imbuh Widonarto.

Dari 448 kasus malaria, tercatat ada enam orang yang meninggal dunia. Penyebabnya bermacama-macam. Ada yang karena terlambat dirujuk, komorbid, dan juga obat yang tidak efektif.

Berbanding terbalik dengan kasus malaria yang meledak di tahun ini. Kasus DBD (demam berdarah dengue) justru mengalami penurunan drastis, yakni hanya lima kasus. Sedangkan tahun lalu mencapai 134 kasus. (luk)