Kaget, Pekerja Proyek di Kedung Putri Temukan Bungkusan Berisi Janin Bayi

PERIKSA. Petugas medis saat memeriksa janin bayi yang ditemukan pekerja revitalisasi di Kedungputri. (Foto lukman)
PERIKSA. Petugas medis saat memeriksa janin bayi yang ditemukan pekerja revitalisasi di Kedungputri. (Foto lukman)

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.COM – Pekerja proyek revitalisasi di Kedung Putri menemukan bungkusan berisi janin bayi. Temuan tersebut sontak menggegerkan warga sekitar tepatnya RT 1 RW 5 Kelurahan Baledono, Kecamatan/ Kabupaten Purworejo, akhir pekan lalu.

Belum diketahui siapa pemilik janin bayi itu. Kini janin telah di bawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tjitrowaedjoyo Purworejo, guna dilakukan otopsi untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut.

“Janin bayi itu pertama kali ditemukan oleh seorang pekerja harian proyek revitalisasi saluran irigasi Kedung Putri bernama Ahmad Zaeni, warga Kebumen. Dirinya bersama pekerja lain yang hendak melakukam pekerjaan pengecoran irigasi merasa curiga saat melihat barang itu dan setelah diteliti ternyata janin bayi, lalu melapor ke Polsek Kota Purworejo,” ungkap Kapolsek Kota Purworejo, AKP Joko Nurwanto, saat ditemui dikantornya, kemarin.

Petugas Polsek Kota Purworejo yang mendapati laporan itu, bersama tim medis dari Puskesmas Purworejo dan bidan setempat langsung meluncur ke tempat kejadian dan melakukan pemeriksaan.

“Dari hasil keterangan medis, janin itu diperkirakan masih berumur sekitar 10 mingguan atau dua bulanan. Janin itu kemudian dibawa ke RSUD Tjitrowardjoyo,” jelasnya.

Polisi bersama warga belum mengetahui siapa pemilik janin itu. Warga sekitar lokasi penemuan menyatakan jika di RT 1 RW 5 Kelurahan Baledono tidak ada yang mengetahui dan belum ada kabar warga yang melahirkan atau sakit karena keguguran dan lainya.

“Saat ini masih dalam penyelidikan petugas Reskrim Polres Purworejo dibantu petugas Polsek kota Purworejo, kita berharap bisa segera ditemukan pemilik janin tersebut,” ujarnya. (luk) 

Artikel Menarik Lainnya :  Menparekraf Sandi Canangkan Pandanrejo Jadi ‘The New Zealand Van Java’