Kabupaten Magelang Masuk Lima Besar Peredaran Narkoba se-Jateng

SOSIALISASI. Kegiatan Sosialisasi BNN Kabupaten Magelang dengan tema Dukungan Pondok Pesantren Dalam Mewujudkan Indonesia Bersinar (Bersih Dari Narkoba).
SOSIALISASI. Kegiatan Sosialisasi BNN Kabupaten Magelang dengan tema Dukungan Pondok Pesantren Dalam Mewujudkan Indonesia Bersinar (Bersih Dari Narkoba).

MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Kabupaten Magelang masuk lima besar peredaran Narkoba se Jawa Tengah (Jateng). Hal tersebut membuat BNN bekerja keras mensosialsasikan bahaya narkoba kepada masyarakat.

Diantaranya melalui kegiatan Pengembangan Kapasitas P4GN Pada Lembaga Adat dan Komonitas Berbasis Kearifan Lokal, Rabu (23/3/2022), di Hotel Trio Magelang.

Dalam kegiatan kali ini BNN Kabupaten Magelang mengangkat tema Dukungan Pondok Pesantren Dalam Mewujudkan Indonesia Bersinar (Bersih Dari Narkoba).

“Sebelumnya kami telah mengadakan kegiatan serupa dengan membentuk Desa Bersinar saat ini sudah terbentuk empat desa, yaitu Desa Blondo, Deyangan, Borobudur dan Danurejo. Target tahun ini 24 Desa Bersinar. Selain itu kami juga bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, untuk membentuk Sekolah Bersinar dan hal itu sudah berjalan,” ucap Kepala BNN Kabupaten Magelang, Catharina SM Ssos.

Adapun dalam program Pesantren Bersinar, menurut Catharina, dalam acara tersebut dibentuk 20 Pesantren Bersinar.

“Kami mengundang 20 Pesantren dari Kabupaten Magelang untuk mendukung program ini,” terang Catharina, yang juga akan membentuk Lingkungan Wisata Bersinar dengan melibatkan pengelola seluruh Balkondes di Borobudur.

Pembicara dalam kegiatan tersebut, mewakili Kepala Kemenag Kabupaten Magelang, Kasubag Tata Usaha Kemenag Magelang, Khoironi Hadi, mengatakan, prihatin Kabupaten Magelang masuk lima besar peredaran Narkoba se Jawa Tengah.

“Ironisnya di Kabupaten Magelang sendiri merupakan daerah religius dan banyak Pondok Pesantren besar di wilayah ini. Ditambah saat ini banyak kasus narkoba muncul di Pesantren. Maka kami harapkan kepada pengelola pondok agar lebih waspada kepada anak didiknya, ditambah latar belakang anak didik santri harus diketahui agar tidak membawa pengaruh buruk kepada santri lainnya,” papar Khoironi Hadi.(cha)