Job Fair Dihapus, Pengangguran Justru Turun di Kota Magelang

PENCAKER
LATIHAN KERJA. Minat masyarakat mengikuti pelatihan di BLK Kota Magelang sangat tinggi. Kehadiran BLK pula dianggap menjadi strategi jitu memberdayakan sekaligus menambah keterampilan para pencari kerja.

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG UTARA – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Magelang turun signifikan. Berdasarkan data statistik, tercatat ada 4,43 persen saja atau sekitar 3.500-4.000 orang dari 66 ribu angkatan kerja.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Magelang, Gunadi Wirawan, mengatakan turunnya jumlah pengangguran ini karena berbagai faktor, seperti berimbangnya lapangan pekerjaan, tingginya minat pencari kerja mendapat pekerjaan, dan juga keberhasilan pelatihan dan pemberdayaan pemerintah.

Salah satu yang paling terdampak, adalah tingginya minat pencari kerja (Pencaker) belajar di Balai Latihan Kerja (BLK). Para alumni BLK, sebagian besar kini telah berubah menjadi wirausahawan mandiri.

Kehadiran BLK mampu menjadi solusi di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan masyarakat. Gunadi membandingkan, strategi ini dibandingkan dengan membuka sarana bursa kerja atau Job Fair. Menurut dia, kegiatan Job Fair kurang efektif, dengan pertimbangan biaya yang relatif besar dan hasilnya yang tidak sesuai harapan.

Baca Juga
Mall 15 Lantai Segera Dibangun di Eks Gedung Magelang Teater

”Sejak tahun 2019 kita tiadakan Job Fair, diganti dengan informasi lowongan pekerjaan yang terus kita sebarkan ke pencaker. Mereka kami wadahi lewat grup khusus Whatsapp untuk memudahkan penyampaian lowongan pekerjaan,” kata Gunadi, kemarin.

Efektifnya strategi tersebut, dibuktikan dengan makin meningkatnya minat masyarakat untuk dapat mengikuti berbagai pelatihan yang telah disediakan di BLK. Bahkan, saking banyaknya peminat, Disnaker pun terpaksa memberlakukan seleksi ketat kepada calon peserta pelatihannya.

”Kami bentuk 17 grup whatsApp untuk mengakomodasi masing-masing pencaker yang ada di tiap kelurahan. Kalau ada informasi lowongan pekerjaan dan pelatihan di BLK, langsung kami bagikan di grub tersebut,” ungkapnya.

Cara ini diklaim sukses menurunkan angka pengangguran. Ia menyebutkan TPT tahun 2018 sebanyak 4,48 persen dan per November 2019 sebesar 4,43 persen sesuai data yang di rilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Artikel Menarik Lainnya :  Walikota Magelang Serahkan BST Rp 2 Juta pada 67 KPM

Dari kegiatan pelatihan di BLK, pihaknya pun memantau hasilnya. Diketahui 30 persen alumni BLK dapat bekerja, 30 persen mandiri atau memiliki usaha sendiri, dan sisanya masih menganggur.

”Yang 40 persen sisanya itu kita ikuti terus perkembangannya sampai 1,5 atau 2 tahun ke depan,” ujarnya.

Jika masih tidak terserap di dunia kerja, maka mereka masih diberikan kesempatan lagi untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan di BLK. Pelatihan yang bisa diikuti seperti menjahit, boga, tata rias, bengkel, komputer dan sebagainya.

Gunadi menyebut bahwa ada banyak sebab TPT terus ada. Di antaranya mental malas, terbatas informasi lowongan kerja, hingga rendahnya keterampilan.

”Penanganan akan berbeda antara pencaker dengan pengangguran. Karena pencaker biasanya akan aktif mencari informasi mendapatkan pekerjaan. Sedangkan pengangguran, kebiasaan tidak punya itu, makanya kami melakukan strategi jemput bola, untuk memberikan motivasi bagi mereka,” pungkasnya. (wid)