Jelang Ramadan, Penyandang Disabilitas BBRSPDI Kartini Temanggung Dilatih Membuat Kue

Sebanyak 30 penerima manfaat di BBRSPDI Kartini Temanggung sedang praktik membuat kue kering di aula BBRSPDI setempat
PRAKTEK. Sebanyak 30 penerima manfaat  di BBRSPDI Kartini Temanggung sedang praktik membuat kue kering di aula BBRSPDI setempat

MAGELANGEKSPRES.TEMANGGUNG – Untuk meningkatkan kemandirian penerima manfaat penyandang disabilitas, Balai Besar Rehabilitas Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BBRSPDI) Kartini Temanggung melakukan berbagai upaya. Salah satunya mengadakan pelatihan membuat kue kering yang diikuti oleh sebanyak 30 penerima manfaat, pada menjelang Ramadan dan Idul Fitri tahun ini.

Nurul Komariyah Penyuluh Sosial BBRSPDI Kartini Temanggung mengatakan, peserta yang mengikuti pelatihan adalah penerima manfaat yang masih aktif di BBRSPDI, alumni dan pendamping. Mereka mengikuti pelatihan pembuatan kue kering mulai dasar hingga siap untuk dipasarkan.

“Memang sengaja dipilih pembuatan kue kering, karena momennya saat ini sangat tepat sekali, menjelang Ramadan dan Idul Fitri yang biasanya banyak pesanan kue kering seperti ini,” terangnya, kemarin.

Menurutnya, pelatihan ini selain dari Temanggung sendiri juga diikuti oleh pendamping dari Balai Besar Antasena Salaman, Balai Besar Margo Laras Pati dan Balai Besar Bina Daksa Prof DR Soeharso Surakarta.

Diharapkan, ke depan para pendamping yang dari luar Temanggung ini bisa menularkan ilmunya kepada penerima manfaat di daerah masing-masing, sehingga ke depan penerima manfaat bisa semakin mandiri.

“Pelatihan ini mulai tanggal 8 hingga 11 April mendatang, selama waktu tersebut peserta tidak hanya mendapatkan teori saja, tapi akan langsung praktek membuat kue kering,” jelasnya.

Tujuan dari pelatihan ini agar penerima manfaat dan pendamping mampu atau menambah keterampilan dalam membuat kue kering, yang nantinya ditularkan pada yang lain. Ke depan diharapkan mereka punya satu keterampilan agar dapat menghasilkan usaha sendiri atau punya pendapatan dari membuat kue.

“Jadi tidak hanya mandiri secara sosial saja, namun mandiri dalam perekonomiain,” katanya.

Terkait dengan pemasaran sendiri, jika para penerima manfaat ini memang sudah benar-benar menghasilkan produk yang bagus, maka pihaknya juga akan membantu dalam pemasarannya.

Artikel Menarik Lainnya :  17.639 Pekerja Swasta di Temanggung Telah Divaksin Covid-19

Baca Juga
Pemkab Temanggung Siapkan Rp1,9 Miliar untuk Penanganan Pasca Bencana Alam

“Kami sudah mempunyai sentra kreasi untuk pemasaran dan menampung produk dari penerima manfaat ini,” tandasnya.

Eksekutif Direktur Surabaya Hotel School, Agus Supomo mengatakan pelatihan sebagai upaya pemberdayaan penerima manfaat terutama yang berada di balai di bawah Kementerian Sosial. Pelibatan instruktur atau mentor karena mereka yang akan mendapingi penerima manfaat.

“Penerima manfaat ini tidak bisa dilepas begitu saja usai dapat membuat kue, mentor ini harus mendampingi,” kata dia.

Agus mengaku dalam memberikan pelatihan kepada penerima manfaat disabilitas mental ini berbeda dengan pelatihan kepada masyarakat pada umumnya. Namun demikian dengan adanya pendamping semua bisa teratasi dengan baik.

“Kendala pasti ada, karena memang kondisinya berbeda, ini yang menjadi tantangan dan alhamdulilah tetap bisa kami atasi,” katanya.

Sementara Feriska salah satu penerima manfaat menuturkan, pelatihan seperti ini sangat menyenangkan, memang awalnya cukup susah namun setelah mengikuti ternyata mudah dilakukan dan hasilnya juga sangat enak.

“Saya bisa buat kue kering sekarang, nanti di rumah mau buat kue yang sama,” tuturnya. (set)