Jelang Musim Hujan, BPBD Temanggung Cek EWS di Desa Rawan Bencana

BPBD Temanggung Cek EWS di Desa Rawan Bencana
CEK. Petugas BPBD Temanggung sedang mengecek EWS di salah satu desa rawan bencana di kabupaten setempat. (foto:doks BPBD Temanggung)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Memasuki pergantian musim, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung terus melakukan pengecekan Early Warning System (EWS) di sejumlah daerah rawan bencana.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Temanggung, Pria Andaka mengatakan, kondisi geografis Temanggung sebagian besar terletak di pegunungan dan perbukitan. Sehingga, ketika memasuki musim penghujan seperti saat ini sangat rawan bencana alam terutama bencana tanah longsor.

Oleh karena, pengecekan terhadap fungsi dari EWS atau alat pendeteksi bencana harus dilakukan, mengingat perubahan cuaca dari musim kemarau ke musim penghujan akan berpengaruh pada kondisi tanah di setiap daerahnya.

“Saat musim kemarau kondisi tanah kering, jika langsung ada hujan deras maka tingkat kerawanan untuk terjadi bencana tanah longsor sangat tinggi, apalagi di daerah yang tanahnya labil,” tuturnya.

Dari 83 EWS yang terpasang di hampir seluruh kecamatan yang terdiri atas ekstensometer atau alat deteksi gerakan tanah dan pengukur curah hujan, kebanyakan masih berfungsi normal. Namun, beberapa EWS mengalami kerusakaan seperti tertimbun longsor dan atau sengaja tidak dihidupkan warga.

Pengecekan alat-alat tersebut menjadi penting dilakukan sebagai langkah antisipasi kebencanaan. Jumlah EWS yang terpasang di masing-masing wilayah kecamatan berbeda-beda tergantung kondisi di lapangan. Ia menyebutkan sejumlah daerah rawan bencana tanah longsor, antara lain Kecamatan Kaloran, Kandangan, Gemawang, Tlogomulyo, Kranggan, Selompampang, Bulu, Jumo, Kedu, dan Kecamatan Bejen.

“Memang kami temukan beberapa alat yang sudah rusak dan kami koordinasi dengan kepala desa, alhamdulillah ada tanggapan positif. Jadi untuk pemeliharaan sudah dianggarakan desa misalnya membeli seling (kawat) untuk deteksi longsor,” katanya.

Selain itu, ia juga berharap peran serta masyarakat dalam melakukan perawatan dan pemeliharaan EWS.

Artikel Menarik Lainnya :  Hasil Panen Tembakau Jeblok, Warga Kledung Tetap Gelar Merti Desa

“Jadi alat ini juga terpasang di beberapa rumah warga, namun karena harus dialiri listrik, warga yang dipasangi EWS merasa keberatan untuk membayar. Jadi kami minta kepada pemerintah desa setempat untuk dibuat anggaran sendiri untuk perawatannya, karena ini bukan milik perseorangan, melainkan milik kepentingan bersama,” kata Pria.

Melihat kondisi geografis di Kabupaten Temanggung sebetulnya masih perlu ditambah jumlah EWS, utamanya di daerah pinggiran seperti di wilayah Kaloran.

Sebab katanya, sejumlah desa di kecamatan tersebut masuk ke dalam daerah rawan bencana tanah longsor, sehingga pemasangan EWS ini memang sangat dibutuhkan.

“Kami akan mencoba mengusulkan, agar ke depan semua daerah rawan bencana alam di Temanggung bisa terpasang EWS, sehingga bisa mengurangi korban jika terjadi bencana alam,” harapnya. (set)