Inilah Kisah Sopir Truk di Temanggung di Balik Demo Kebijakan ODOL

Inilah Kisah Sopir Truk di Temanggung di Balik Demo Kebijakan ODOL
BEROPERASI. Salah satu unit truk bermuatan tampak tengah beroperasi di ruas jalan Kabupaten Temanggung. Foto: rizal ifan chanaris.
TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Aksi demo yang diikuti oleh para sopir truk di sejumlah wilayah kota/kabupaten terhadap kebijakan Zero Over Dimension and Over Loading (ODOL) memang sudah terjadi beberapa waktu lalu. Namun nyatanya, dibalik aksi itu terdapat sejumlah dilema dan situasi pelik yang masih harus dihadapi oleh para awak angkutan truk.
Banyak kisah dan cerita “suram” para sopir truk yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Seperti yang dituturkan oleh Rofik (40), salah seorang awak angkutan truk asal Kecamatan/Kabupaten Temanggung belum lama ini. Ia menyebut, aksi demo kebijakan Zero ODOL hanyalah puncak dari tumpahan emosi yang sudah dirasakan para sopir sejak bertahun-tahun.
Mewakili perasaan awak truk, ia mengungkapkan bahwa banyak sekali dilema yang harus dihadapi selama mereka membawa beragam muatan barang di sejumlah ruas jalan menuju lokasi tujuan pengiriman.
Lantaran membawa muatan berlebih saat dalam ekspedisi seperti caba, pakan ayam dan barang lain, para sopir kerap menjadi sasaran empuk penilangan oleh para petugas dari Dinas Perhubungan hingga jajaran Satuan Lalu Lintas.
Mereka mengklaim telah menjadi “korban sepihak” atas aturan tersebut. Pasalnya, tonase berlebih yang mereka muat adalah hasil perintah dari perusahaan yang meminta penggunaan jasa ekspedisi barang.
“Kami mau saja membawa barang muatan sesuai aturan tonase dalam kebijakan ODOL asal hitung-hitungannya masuk. Tetapi kan kami memuat sesuai D.O perusahaan. Yang jadi masalah, kenapa kami para sopir yang dijadikan sasaran tilang oleh para petugas di jalan. Harusnya kalau berbicara adilnya, pihak perusahaan yang harusnya ditegur,” bebernya.
Ia membeberkan, tak hanya ironi penindakan tilang yang harus mereka hadapi di jalanan, namun ada hal yang sangat menyentuh substansi moral pekerjaan. Yakni mereka kerap tidak membawa hasil cukup layak bagi keluarga di rumah meski telah bekerja keras, hingga jarang pulang ke rumah.
Lanjut Rofik, sebagai gambaran, rata-rata sopir truk yang beroperasi mengeluhkan minimnya hasil beraih yang biasa mereka nafkahkan kepada keluarga.
“Begini hitungannya, kita dapat alokasi sekian Rupiah dari perusahaan pengiriman barang. Kita kurangi setoran ke pemilik truk, biaya solar, biaya operasional di jalan seperti makan dan minum, ini masih dibebani tilang di sana sini dengan alasan over muatan. Saya pribadi, rata-rata hanya membawa pulang bersih uang ke rumah untuk nafkah keluarga hanya Rp 75.000 setiap ekspedisi membawa cabai ke Jakarta dan sekitarnya selama dua hari dan Rp 30.000 per hari kalau ekspedisi pakan ayam ke daerah Semarang dan sekitarnya,” keluhnya. (riz)